Hari ini saya mendapat pertanyaan dari mahasiswa tentang suatu hal. Pertanyaannya kira-kira seperti ini: Pak, mengenai  “X” diatur dalam Pasal berapa dalam UU “Y”?

Pada dasarnya saya senang jika ada pertanyaan muncul dari mahasiswa. Namun pertanyaan berupa Pasal, isi undang-undang dll seperti itu membuat saya menggaruk kepala. Saya sendiri bukan Undang-undang berjalan. Ahli hukum, lawyers, tidak harus hafal bunyi undang-undang.  Seharusnya pertanyaan sesederhana itu tidak perlu ditanyakan pada saya. Mengapa mahasiswa tidak ‘menanyakan’ pada UU saja? Mengapa mahasiswa tidak melihat saja sendiri pada UU-nya? Ini yang menurut saya adalah keengganan (untuk tidak mengatakan kemalasan) mahasiswa dalam menggali dan mencari tahu jawaban atas suatu permasalahan hukum bahkan yang paling sederhana sekalipun. Ada semacam sikap instan: ingin tahu jawaban tanpa berusaha, walau sebenarnya tak sukar untuk mendapat jawaban dari yang ingin diketahuinya.

Seharusnya, mahasiswa sebagai manusia yang belajar di level pendidikan tinggi tidak lagi bertanya mengenai hal sedemikian, namun pertanyaan yang lebih critical semisal menyangkut debat teoritik yang mewarnai suatu UU dan atau atau debat falsafati suatu UU. Lagipula, dalam menanyakan sesuatu, seharusnya mahasiswa tidak berangkat dalam kondisi 100 persen tidak tahu, namun telah melakukan penyelidikan awal yang cukup dan maksimal sehingga  sehingga ketika hendak mendiskusikan pendapatnya itu akan tercipta diskusi yang lebih tajam dan menarik, dan bukannya hal-hal yang terlalu sederhana yang sebenarnya bisa dicari sendiri jawabannya asal mahasiswa tidak terlalu malas mencarinya.

25/03/10