Team debat FH UNSOED yang terdiri dari Ahmad Biky (2006), Angga (2006), dan Alde (2008) didampingi oleh saya (dosen pendamping) dan Agus Triyantoro (official dari BEM FH UNSOED)  harus berbesar hati menerima kekalahan di babak penyisihan Lomba Debat Fakultas Hukum Nasional Piala Dr. Mochtar Riady yang diselenggarakan oleh Senat FH Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang.

Kekalahan adalah salah satu konsekwensi logis dari apapun perlombaan, karena tak mungkin semua pihak yang bertarung akan tampil sebagai pemenang. Sebagaimana team lain yang tersisih, team debat FH UNSOED mengakui keunggulan dua team yang masuk ke babak final yakni Team dari FH UI dan FH UNPAD. Kendati kami masih berada di atas Team dari FH Universitas Atmajaya Yogyakarta dan team FH Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, team FH UNSOED masih berada di bawah team dari FH Universitas Sumatera Utara dan team dari FH Universitas Katolik Parahyangan Bandung di babak penyisihan.

Kekalahan di babak awal ini memberikan pelajaran yang amat berharga yang disadari semua dari team, bahwa lomba debat adalah perlombaan yang tak saja mengadu kemampuan dan analisa berfikir hukum, namun pula suatu perlombaan yang menuntut baiknya performa sebagai team bukannya individu. Di sinilah titik kelemahan FH UNSOED yang ditunjukkan dari nilai yang tak menggembirakan yang terlihat dalam rekap nilai seluruh juri yang disaksikan oleh team seusai pengumuman pemenang. Kami menyadari bahwa team ini memang harus benar-benar dibentuk atau terbentuk sebagai team yang solid sebelum pertandingan sehingga imbasnya dalam kerjasama team akan baik dan sempurna. Harus ada chemistry diantara para anggota team untuk maju dan melangkah bersama terlebih dalam suatu kompetisi yang meniscayakan kerjasama kelompok. Inilah yang menjadi kekurangan besar team FH UNSOED, kekurangan mana amat kami sadari dan rasakan bersama bahkan sebelum kami berangkat untuk bertanding.

Hasil perenungan kami setelah lomba, soliditas gagal terbentuk antara lain dikarenakan proses seleksi memang mengawinkan beberapa individu calon terpilih untuk kemudian menjadikannya sebuah dream team. Suatu pemikiran yang amat baik tentu saja melatarbelakangi seleksi model seperti ini, yakni menjodohkan pilihan-pilihan terbaik untuk kemudian menggabungkannya menjadi sebuah team. Kami meyakini dan mempercayai hal ini. Namun menyatukan tiga insan yang berbeda dalam satu team memang bukan perkara mudah lagi sederhana. Perbedaan angkatan, perbedaan karakteristik masing-masing individu, serta perbedaan ideologi dalam mensikapi kasus hukum tertentu ternyata amat sangat berpengaruh dalam soliditas untuk menghadapi suatu isu hukum tertentu.

Kami mencoba menginventarisir berbagai kelemahan lainnya. Kami antara lain juga menyadari bahwa aturan main/rule of the game tidak kami perhatikan dengan baik (untuk tidak mengatakan kami abaikan) sehingga perolehan score tidak seperti yang diharapkan. Soal jatah waktu yang tersedia untuk menyampaikan pemaparan maupun untuk menanggapi team lawan misalnya, sudah secara eksplisit ditentukan. Seharusnya, mensiasati hal ini harus diatur strategi agar setiap anggota team dapat tampil mengemukakan argumentasinya. Namun hal ini tak kami lakukan. Padahal aturan main yang telah dipaparkan di kala technical meeting seharusnya diantisipasi untuk mencari celah peluang perolehan skor maupun sebaliknya untuk menghindari penilaian yang buruk. Harus kami akui, kami lebih fokus pada menjawab isu pro kontra akan suatu kasus, dan melupakan taktik dan strategi untuk menyampaikan isu yang hendak kami bangun.

Persiapan awal yang kurang matang dan tertata rapi juga menjadi perhatian kami. Lomba Debat tidak mengharamkan catatan dan inventarisir kasus untuk dibawa dalam perlombaan. Semua topik yang hendak diperdebatkan sebenarnya tak lagi sesuatu yang baru bagi kami, karena telah disampaikan jauh hari sebelumnya. Artinya jika saja legal research yang dilakukan dapat terdata dan terarsip dengan baik, maka semua data tersebut dapat dibawa di medan perang, dan digunakan sebagai mesiu yang amat baik dan mematikan lawan. Ini yang tidak kami lakukan. Akibatnya, manakala bertanding kami hanya mengandalkan ingatan dan catatan kilat yang dibuat menjelang lomba dan bahkan di tengah pertarungan. Tak heran, dalil yang kami ajukan dalam mendukung argumen kerapkali bisa dicermati lawan sebagai kesalahan fatal dan titik lemah untuk dimentahkan. Tak heran pula, team pemenang amat bagus membawakan argumen dan posisinya karena mereka berbekal data pelengkap dan penunjunjang yang pada gilirannya membawa kemenangan mereka. Data penunjang itu berbentuk catatan yang amat rapi atas semua pro-kontra, sehingga bisa digunakan semasa-masa untuk menegasikan pendapat lawan.

Namun demikian, kami sepakat bahwa tidak ada faktor tunggal yang menjadi penyebab kegagalan. Kami tidak mengatakan bahwa faktor X atau faktor Y atau faktor Z lah yang menjadikan satu-satunya penyebab utama kegagalan kami,  karena semua yakni bahwa yang kami terima ini adalah  hasil percampuran semua faktor. Di kamar penginapan, dalam kepulan asap rokok dan penatnya badan, setiap anggota team-termasuk saya sebagai dosen pembimbing dan Agus Triyantoro sebagai official-melakukan ‘pengakuan dosa’ masing-masing yang menjadi kontribusi kekalahan yang harus kami telan.

Kami sepakat untuk menerima kekalahan karena memang kami belum pantas untuk memenangkan pertandingan. Namun kami berbangga bahwa kami telah membawa bendera Fakultas Hukum UNSOED dalam pertarungan debat nasional. Tampilnya kami di event nasional yang diselenggarakan oleh sebuah universitas yang terpandang  di Indonesia ini menjadikan FH UNSOED dikenal oleh rekan-rekan mahasiswa UPH dan berbagai Universitas yang hadir di sana. Sudah menjadi rahasia, bahwa nama UNSOED  masih berada dalam tanda tanya besar baik di kalangan mahasiswa universitas lain maupun masyarakat pada umumnya. Setidaknya kami menjadi pengingat bahwa UNSOED adalah sebuah PTN yang terletak di salah satu himpunan kecamatan di kabupaten Banyumas dan harus diperhitungkan dalam kancah pertarungan lomba debat sejenis di masa akan datang.

Akhirnya, pelajaran yang berharga dari perlombaan tersebutlah yang kini kami bawa dan justeru catatan catatan berharga itulah yang dengan segala kerendahan hati kami sampaikan pada siapapun nantinya team FH UNSOED yang akan berlaga dalam pelbagai lomba debat yang akan diselenggarakan di kemudian harinya. Semoga pengalaman yang kami dapat di Karawaci, Tangerang ini, akan dapat dipetik sebagai pelajaran.

Dengan kerendahan hati, team Debat FH UNSOED memohon maaf pada segenap keluarga besar FH UNSOED karena belum dapat memberikan yang terbaik demi keharuman nama FH UNSOED. Semoga kekalahan ini sekedar kemenangan yang tertunda, dan kelak pada masanya, piala Dr Mochtar Riady akan bersemayam di kampus FH UNSOED tercinta. Atas dukungan Dekanat FH UNSOED dan BEM FH UNSOED serta segenap civitas akademika kepada team debat FH melalui berbagai saluran komunikasi, kami ucapkan banyak terimakasih.

14 April 2010