Hadir sebagai mahasiswa penyelundup dalam kuliahnya menjadi salah satu hal yang paling mengasyikkan dalam kehidupan saya sebagai mahasiswa. Yang saya maksud sebagai mahasiswa penyelundup adalah bahwa saya tidak mengambil mata kuliahnya secara resmi di KRS (tidak seperti mata kuliah Psikologi Sosial yang memang saya tempuh di kampus FISIP, sebuah mata kuliah  yang belakangan diketahui diampu oleh seorang Doktor palsu!  ). Namun saya kira, seandainya beliau dan birokrasi FISIP UNSOED mengerti keberadaan saya dari Fakultas Hukum sekalipun, ia tak akan berkeberatan. Riswandha Imawan, Gurubesar FISIP UGM yang telah berpulang pada 4 Agustus 2006 ini memang sempat menjadi dosen luarbiasa FISIP UNSOED,. Kala itu, di era Orde Baru, tulisan-tulisannya banyak menghiasi halaman surat kabar. Pemikiran dan analisanya mengenai politik Indonesia jernih dari kacamata akademisi/peneliti, tanpa ada warna dan bau kepentingan yang membelakangi. Dengan kredibilitas dan integritas keilmuannya seperti itu, mendatangi kuliah seorang Riswandha Imawan adalah suatu kemewahan dan memiliki sensasi mendekati selebriti. Bagaimanapun bagi  kebanyakan mahasiswa seperti saya, pengalaman ngangsu kawruh, menimba ilmu  dari  seorang yang memiliki kapasitas dan kredibilitas yang tinggi tentu memiliki sensasi yang luarbiasa terlebih bagi mahasiswa sebuah universitas kecil seperti UNSOED.

Suatu siang, saya datang di perkuliahannya di sebuah ruangan di FISIP UNSOED. Mungkin sekitar tahun 1996 atau 1997.   Saya lupa apa bahasannya kala itu, namun dalam kuliahnya itu ia mendiskusikan kepada kami mahasiswa mengenai pidato Presiden Soeharto yang diucapkan sehari atau beberapa hari sebelumnya. Gaya bicara, cara penyampaiannya enak dan lucu, memancing tawa, membuat banyak pemikirannya mudah diserap oleh kepala.

Yang masih teringat di benak adalah bagaimana beliau di awal kuliah nampak agak gusar menyaksikan kursi di depan kelas cenderung kosong, sedangkan mahasiswa memadati kursi di bagian belakang. Ia meminta mahasiswa duduk di depan dan mengisi kursi yang kosong. Pada kami ia berkata “Inilah yang membuat masyarakat sipil Indonesia selalu kalah dari militer. Lihat militer, dimana-mana selalu duduk di depan. Kalau naik seorang militer  akan duduk di depan. Sedangkan orang-orang sipil seperti anda ini, memilih di belakang,” demikian kira-kira kritik Riswandha kepada kami. Pemilihan tempat duduk dengan status seorang warga negara yang saat itu dihegemoni dengan Dwi Fungsi ABRI terasa pas untuk menjelaskan mengapa masyarakat sipil seakan tak akan mampu menyaingi kepempimpinan militer yang dicita-citakan demi terwujudnya Indonesia yang demokratis.

Apa yang diucapkannya terasa kebenarannya. Kita memang kerapkali kurang atau bahkan tidak confident untuk berada di depan. Seolah berada di depan adalah keberadaan yang bisa mengancam atau membikin repot kita. Kelak, beberapa tahun setelah menjadi dosen, hal yang sama ternyata saya jumpai dalam perkuliahan dengan mahasiswa. Mahasiswa selalu berkecenderungan untuk duduk di belakang, yang pada banyak kasus kemudian memanfaatkan posisi strategis tersebut untuk ngobrol sendiri dan mengabaikan perkuliahan, dan sekedar mencari absen belaka. Duduk di depan sama saja ‘terancam’ untuk ditunjuk, sesuatu yang dirasakan tidak enak. Sampai kapankah kecenderungan seperti ini akan menghinggapi benak mahasiswa?