“Barangkali sampai di sini ada yang hendak bertanya?” demikian selalu saya tanyakan kepada mahasiswa ketika suatu bahasan dalam perkuliahan telah selesai saya berikan. Sebeluim mengakhiri kuliah atau sebelum melanjutkan ke bahasan selanjutnya, saya selalu berusaha untuk membuka ruang diskusi, tanya jawab, dan sharing ideas dengan mahasiswa. Tanya jawab ini tak saja berguna bagi mahasiswa untuk menambah pemahaman akan apa yang telah disampaikan, namun dalam banyak hal juga amat bermanfat bagi saya dan mahasiswa karena dari benak mahasiswa kerap muncul permasalahan-permasalahan yang sederhana namun aktual dan merupakan masalah hukum yang menarik untuk didiskusikan. Alternatively, ada kalanya saya sengaja melempar suatu permasalahan hukum untuk kemudian dipikirkan dan dipecahkan mahasiswa dan memberi kesempatan seluas-luasnya pada mahasiwa untuk mencoba memecahkan permasalahan.

Saya selalu memastikan semua yang ingin bertanya  dan atau semua yang hendak dan ingin mencoba memecahkan permasalahan untuk mendapat kesempatan. Selama ini boleh dibilang, perkuliahan saya cukup menggembirakan, dalam arti selalu ada respon, ada umpan balik dari mahasiswa. Terkadang bahkan saya kewalahan, karena banyak pertanyaan dan tanggapan sedangkan waktu menuntut saya untuk melaju ke bahasan berikutnya. 

Untuk menjawab pertanyaan mahasiswa saya lebih suka untuk pertama kali memberikan kesempatan kepada mahasiswa lain untuk menjawab. Saya sebagai dosen hanyalah fasilitator, organizer di kelas untuk adanya ruang diskusi. Mahasiswa berinteraksi di sana, dan kalau dipandang perlu, barulah saya ‘turun tangan’. Kalau diantara mahasiswa telah dapat memecahkan sendiri masalah yang dilempar oleh saya atau oleh sesama mahasiswa, maka saya hanya mengamini saja.

Dalam proses diskusi selama  ini ada fenomena yang menurut saya cukup menarik. Ternyata tidak semua mahasiswa yang mampu menjawab  pertanyaan mau dan mampu untuk mengartikulasikan pemikirannya secara terbuka. Banyak yang masih memendam pertanyaan atau bahkan jawaban di hatinya. Hal ini bisa saya simpulkan ketika tak ada lagi yang mengangkat tangan untuk bertanya atau mencoba menjawab, dan saya mencoba menanyai beberapa mahasiswa yang tadinya diam secara acak apakah ada yang hendak berpendapat, dan mahasiswa yang saya tanyai ini ternyata mempunyai jawaban tersendiri yang tak kurang bagus. Dengan kata lain, seandainya mahasiswa tersebut tidak saya tanya, barangkali akan terpendam dalam hatinya saja.

Iklim keterbukaan di dalam kelas memang bukan sesuatu yang tercipta begitu saja. Kebebasan berfikir dan berpendapat mahasiswa pada banyak hal merupakan sesuatu yang masih harus distimulasi, dirangsang, ditumbuhkan. Pada mahasiswa, saya selalu mengatakan bahwa semua pendapat adalah sah adanya. Kekeliruan, kekurangtepatan dalam logika berfikir hukum adalah hal yang lumrah, bukan sesuatu yang perlu ditakuti atau malu dirasai. Bahkan pada tataran tertentu, hukum sebenarnya adalah kontestasi pendapat dan argumen dimana kebenaran adalah relatif. Kebenaran perundang-undangan misalnya, adalah lebih karena kebenaran mayoritas. Justeru ketika kita mengkaji bersama berbagai ragam pendapat yang ada mahasiswa akan lebih mampu memahami apakah pemahamannya sudah on the track ataukah belum.

Di kelas, semua berpotensi untuk membuat kekeliruan, tak terkecuali saya sebagai pengajar. Sekian puluh bahkan ratus mahasiswa di kelas mempunyai tugas pula untuk mengkritisi apa yang saya ajarkan. Keterbukaan dan penghargaan atas pemikiran adalah prinsip dasar yang harus dijunjung tinggi oleh siapapun. Semua berproses, berdialektika dalam semangat asih, asah, dan asuh.  Oleh karenanya tentu saya berharap, rasa takut, rasa sungkan, malu, tidak percaya diri, dan apapun kabut  yang menghalangi seorang mahasiswa dari keinginan untuk berpendapat bisa dienyahkan. Hal ini memang tidak mudah, karena mahasiswa dan tak terkecuali saya mewarisi model pendidikan terutama pendidikan dasar dimana kebenaran ada pada guru dan buku (bahkan buku pegangan terbitan pinggir jalan). Tidak ada kebebasan berfikir,  yang ada adalah pragmatisme untuk mencapai dan mendapat nilai bagus apapun caranya.

Dunia pendidikan tinggi tentu tidak demikian. Kebebasan berfikir, menggunakan rasio adalah hukumnya. Sebagaimana dikatakan oleh Rene Descartes Cogito Ergo Sum; I am thinking, therefore I am. Saya ada, eksis sebagai manusia (termasuk manusia mahasiswa), karena berfikir. Tanpa berfikir, tanpa dialektika, manusia tak ubahnya benda mati yang hidup, makan dan minum serta bereskresi. Tak kurang, tak lebih.

3/06/10