Beberapa hari yang lalu saya menuliskan seputar masih dihinggapinya rasa segan mahasiswa untuk mengungkapkan pendapat dalam diskusi di kelas. Rasa segan ini barangkali disebabkan berbagai hal: takut terlihat bodoh, takut dinilai tidak menguasai (baik di mata rekan mahasiswa maupun pengajar), dan berbagai hal psikologis  lainnya. Ketika saya melakukan  ‘upaya paksa’ dengan cara menunjuk, mahasiswa yang seperti ini tak jarang bisa berpendapat yang cukup bagus dan bahkan ‘out of the box’.

Tidak saja dalam hal berpendapat, mahasiswa ternyata juga dihinggapi ketakutan dan rasa malu tersendiri dalam mengutarakan pertanyaan mengenai sesuatu hal yang berkaitan dengan materi perkuliahan. Ada kalanya mahasiswa seperti ini baru menghubungi saya seusai perkuliahan sebagaimana saya terima hari ini melalui sebuah pesan teks di Facebook, sebuah pesan yang tak saya balas (baca Join Perkuliahan Manunggal K. Wardaya di Facebook dalam kategori  “Refleksi”).

Berdiskusi dengan hanya satu dan dua orang mahasiswa mengenai hal yang menjadi pertanyaannya adalah sesuatu yang saya percaya sebagai tidak efisien, karena energi dan penjelasan saya hanya dinikmati oleh satu mahasiswa saja. Oleh karenanya, saya terpaksa harus menolak menjawab pertanyaan mahasiswa seperti ini bukan karena saya tak mau berbagi pendapat, namun karena hal itu kontraprodukstif dengan misi perkuliahan saya.  Saya memiliki komitmen tumbuh suburnya kebebasan berpendapat dan berekspresi dalam perkuliahan, dan bukannya menumbuhsuburkan rasa takut. Mengakomodasi pertanyaan-pertanyaan secara privat yang timbul karena alasan tidak enak dan rasa malu adalah termasuk hal yang saya sebut terakhir ini.

Oleh karena itu, tak hentinya saya mendorong agar mahasiswa memberanikan diri tidak saja dalam mengungkapkan pendapat, namun dalam mendiskusikan sesuatu hal yang barangkali masih dirasa kurang jelas. Bisa jadi pertanyaan dari mahasiswa tersebut adalah suatu permasalahan hukum yang amat menarik yang akan teramat rugi kalau hanya didiskusikan dengan saya secara privat.   

Munculnya pertanyaan di dalam benak mengenai sesuatu hal bukanlah berarti menunjukkan bahwa orang tidak tahu (yang oleh karenanya harus merasa malu) namun sebaliknya justeru menunjukkan bahwa seseorang dalam proses  memahami sesuatu.  Mampu bertanya adalah ciri bahwa orang dalam proses memahami. Ini jugalah yang ditunjukkan Socrates dalam buku yang ditulis muridnya yakni Plato dalam  The Republic.  Mindset bahwa bertanya adalah ciri orang yang tahu sudah semestinya ditanamkan, karena dari pertanyaan akan timbul hubungan dialektis menuju kepada kebenaran atau setidak-tidaknya mendekati kebenaran. Tidak akan subur ilmu pengetahuan ketika rasa takut masih menghinggapi.

Froum Perkuliahan Manunggal K. Wardaya yang telah saya buat di Facebook memiliki fasilitas FORUM DISKUSI di mana mahasiswa yang mempunyai kendala untuk menyampaikan secara lisan dapat memposting isu hukum yang menjadi pemikirannya secara tertulis. Walau tidak dikemukakan di dalam kelas, apa yang menjadi isu hukum dari mahasiswa akan dapat dimengerti dan turut direnungkan  oleh mahasiswa lain. Dalam forum tersebut, akan banyak pihak yang terlibat dan memecahkan masalah , sehingga diskusi yang tercipta akan lebih interaktif dan bermanfaat bagi banyak pihak.

Saya berharap perkuliahan saya bisa menjadi ajang mahasiswa untuk memberanikan diri berpendapat, berekspresi, tak terkecuali berbeda pendapat baik dengan sesama mahasiswa maupun dengan saya sebagai pengajar. Keberanian berpendapat dan bertukar pikiran secara terbuka yang dilakukan secara baik dan dewasa saya yakin akan menjadi bekal tersendiri bagi mahasiswa ketika kelak memasuki kehidupan sebagai profesional  baik di bidang hukum maupun bidang apapun lainnya.

10/06/10