Siapakah yang sebenarnya patut dipersalahkan terkait beredar luasnya video asusila amatir  yang diduga melibatkan Luna Maya, Cut Tari, dan Nasriel Irham alias Ariel, frontman band rock asal Bandung Peterpan? Saya mencoba menanyakan hal ini pada Theo van Kalleeven, sahabat saya dari Amersfoort, Belanda dalam kesempatan menjelajah hutan wisata Baturraden bersamanya, ditemani dua mahasiswa Angga Afriansyah dan Agus Triyantoro awal Juni 2010. Theo yang berasal dari negara dengan tradisi liberal itu menjawab, bahwa bercinta sekaligus merekam adegan percintaan seperti dilakukan para pesohor negeri ini bisa jadi terbilang immoral/dosa, namun bukanlah sesuatu yang harus dianggap salah dalam kacamata hukum. Menurutnya, privasi harus dihormati, dan untuk itu adalah sah-sah saja melakukan hal itu termasuk mendokumentasikannya selama untuk keperluan pribadi. Menurutnya, baik Ariel, Luna, maupun Cut Tari sama sekali tidak bersalah.  “Mereka hanya sedikit bodoh karena merekamnya,” sambungnya. Sepakat dengan Theo, kami bertiga saling mengiyakan bahwa ketiga artis tersebut, walau menikmati hak pribadi dengan berhubungan seks dan merekamnya, namun telah melakukan keteledoran (untuk tidak mengatakan kebodohan). Bukankah data digital amat rawan berpindah tangan dan dicuri? Bukankah data digital yang  telah dihapus bisa dipanggil kembali dengan suatu software tertentu? Namun Theo  menambahkan bahwa kebodohan bukanlah kejahatan. “Otherwise, I would go to jail,” katanya lagi, memancing tawa saya dan Angga.

Kecuali Agus yang ketika diskusi terjadi sedang tertidur di jok belakang bersama saya, kami bertiga sepakat bahwa apa yang dilakukan oleh Ariel dan siapapun di dalam rekaman yang beredar tersebut bukanlah kejahatan (crime). Apa yang mereka lakukan adalah urusan pribadi, berada dalam ranah privat mereka. Sekalipun apa yang dilakukan mereka terbilang sebagai kejahatan dalam hukum pidana, maka seharusnya dilakukan dekriminalisasi terhadap aturan tersebut. Mengapa? Tak lain, apa yang dilakukan siapapun dalam video tersebut (apakah mirip Ariel-Luna_Tari, apakah tidak mirip Ariel-Luna-Tari, atau memang Ariel-Luna-Tari beneran ) sebagaimana disebutkan di atas adalah berada dalam ruang privat, yang oleh karenanya bukanlah jurisdiksi negara untuk merepresinya. Apa yang dilakukan adalah kebebasan pribadi, yang tak boleh dimasuki negara. Manakala hal pribadi ini dinikmati dan mungkin adalah sesuatu yang dalam ukuran tertentu terbilang sebagai immoralitas, namun penikmatan hak tersebut tak merugikan orang lain, alasan mana menjadi pembenar tindakan negara dengan sarana kekerasan hukum pidana-nya.

Orang mungkin  bertanya: bukankah video tersebut berpengaruh pada moralitas generasi muda? bukankah video tersebut diakses oleh banyak orang yang belum pada usianya untuk mengakses? dan karena moralitas bangsa menjadi merosot karenanya, maka Ariel-Luna-dan Tari merugikan orang lain dan menjadi sah untuk dipidanakan?

Dan pertanyaan terakhir ini sebenarnyalah memberi jawaban atas pertanyaan yang menjadi permasalahan sesungguhnya dari peredaran rekaman panas ini. Siapapun yang mengunggahnya adalah yang seharusnya memikul tanggungjawab nan berat falam hukum pidana, karena dari perbuatannya, maka apa yang dipercaya sebagai kemesuman itu itu menjadi tersebar luas. Oleh karena diunggahnya rekaman tersebut, dan nilai jual para aktor di dalamnya yang begitu tinggi menarik perhatian, maka semua orang menoleh dan mendownload. Sang pengungga-lah yang memiliki immoralitas luar biasa, karena dari perbuatannya tersebut, begitu banyak elemen bangsa yang belum masanya menjadi pengakses rekaman tersebut.  Permasalahannya hingga tulisan ini dibuat, aparat terkesan gagal mengungkap siapa sebenarnya penjahatnya. Ariel-Luna-Tari yang berada pada posisi korban justeru dikriminalisasi, sementara sang penjahat sesungguhnya: orang yang melanggar privasi para pesohor tersebut sekaligus membuat kemerosotan moral seluruh bangsa tak tersentuh hukum.