Artikel ini pernah dikirim ke media massa, tidak dimuat.

Manunggal K. Wardaya

Tewasnya 10 orang penonton dalam konser musik yang digelar dalam rangka peluncuran album group band Beside di Bandung pada 9 Februari lalu menambah panjang deretan peristiwa tragis yang menyertai pagelaran musik di tanah air. Jika sebelumnya insiden yang merenggut nyawa sejumlah penonton hanya terjadi pada pertunjukan group musik pop rock papan atas, peristiwa serupa dengan jumlah korban yang cukup banyak justeru terjadi dalam pagelaran musik band “tak terkenal”, suatu grup yang mengusung aliran musik keras, bertempo cepat, dan memilih jalur bawah tanah (underground).

Menyaksikan cuplikan konser yang menggambarkan para penonton yang beradu tubuh (slam dance) ketika menikmati musik, mereka yang awam terhadap aliran musik ini akan segera tergiring pada asumsi bahwa konser musik metal identik dengan kerusuhan dan sarat dengan kekerasan, dan kesemuanya itulah yang menjadi awal petaka. Asumsi seperti ini akan menggiring pada stigma dan labelisasi kriminal bahkan penyesatan terhadap para seniman musik metal berikut aliran musik yang dianutnya. Tulisan ini hendak mengajak untuk memandang peristiwa memilukan di Bandung tersebut dengan jernih untuk dijadikan sebagai bahan perenungan agar jatuhnya korban jiwa dalam pagelaran musik tidak kembali terulang di kemudian hari.

Sebagaimana dilansir media, pertunjukan musik yang diadakan di Gedung Asia-Africa Culture Centre (AACC) itu sendiri secara keseluruhan sebenarnya berjalan lancar. Artinya bukan karena irama musik yang menghentak penuh luapan emosi yang menjadi biang penyebab tragedi. Adapun adegan slam dance di tengah gemuruh musik yang ditayangkan berbagai media adalah hal yang lumrah dilakukan dalam sebuah konser musik metal yang tak ada urusannya dengan kebencian dan kekerasan. Jatuhnya korban justeru dimulai ketika pertunjukan hampir usai dimana beberapa penonton mulai jatuh pingsan yang membuat petugas membuka pintu keluar. Pada saat itulah penonton dari dalam yang berusaha keluar berdesakan  dengan massa yang hendak masuk mengakibatkan pintu menjadi rusak parah dan sejumlah penonton terinjak-injak. Permasalahannya, apa yang membuat mereka pingsan? Desas-desus mengenai pembagian minuman keras menjelang berakhirnya konser menjadi salah satu isu yang menghangat dalam perisiwa tersebut. Spekulasi ini tentu saja masih perlu diuji kesahihannya. Lagipula, terlepas dari perdebatan moral mengenainya, konsumsi minuman keras secara umum tidak mengakibatkan kematian pada manusia.

Alih-alih semata semata menyalahkan penonton dan panitia, tulisan ini lebih melihat kondisi gedung pertunjukan yang tidak memiliki kapasitas untuk dijadikan sebuah ajang musik metal terlebih dalam jumlah penonton yang besar. Gedung AACC hanya berkapasitas 700 orang (beberapa media menyebut 400 orang) sementara manakala peristiwa itu terjadi banyak pihak percaya gedung itu dijejali lebih dari 1000 orang. Desain gedung yang cenderung tertutup mungkin sesuai digunakan untuk pagelaran musik klasik atau pop, namun tak mencukupi kebutuhan penonton musik metal yang terkonsentrasi dalam jumlah besar dengan kebutuhan ruang gerak yang khusus pula. Cadangan oksigen yang menipis karena dihirup sekian banyak orang ditambah kepulan asap rokok membuat para penonton yang kelelahan baik karena slam dance maupun karena kondisi ruangan seperti berada dalam perangkap yang mematikan, hingga terjadilah peristiwa memilukan itu.

Kota Bandung bagi komunitas musik bawah tanah telah menjadi ibukota metal Indonesia. Di kota ini, puluhan bahkan mungkin ratusan grup beraliran metal muncul atau memulai karirnya. Tak sedikit kelompok musik dari kota ini yang telah go international, dengan merilis album di benua Eropa, Asia maupun Amerika, yang kesemuanya bisa dikatakan nir liputan media. Di kota ini pulalah, berbagai band di Indonesia menjajal kemampuannya untuk eksis dalam percaturan musik metal. Namun adakah wadah yang representatif bagi para seniman musik metal untuk berkreasi dan berekspresi sekaligus ruang bagi warga untuk mengapresiasi musik? Pada masa lalu, Bandung pernah memiliki GOR Saparua yang sempat menjadi kebanggaan para musisi Bandung namun GOR itu kini tak lagi dapat dipergunakan untuk kegiatan musik. Bisa jadi, panitia penyelenggara even tidak mempunyai pilihan lain ketika hendak memilih acara tersebut.

Penulis penah menyaksikan gelaran group thrashmetal dunia Sepultura pada 1992 di Surabaya yang dipadati tak kurang dari 100.000 orang. Penonton telah berjejalan di depan stadion Tambaksari bahkan sejak siang hari, jauh sebelum pertunjukan inti yang dibuka pada sekira pukul 9 malam. Ketika Sepultura memulai aksinya, puluhan ribu penonton menggelar aksi headbang, slam dance tanpa ada kerusuhan atau keributan berarti. Mereka yang telah lelah atau tak mau melakukan slam dance cukup mundur dan menyaksikan dari deretan belakang, atau duduk di tribun stadion. Seingat penulis, ada seorang ibu dalam keadaan hamil tua menonton pertunjukan tersebut tepat di depan panggung dengan didampingi sang suami, namun tak satu pun korban nyawa jatuh di pertunjukan tersebut hingga pertunjukan usai. Konser yang digelar di panggung terbuka dengan ruang gerak yang memadai tak mengakibatkan penonton menjadi lemas karena kehabisan oksigen ataupun berdesak-desakan. Sejumlah tentara yang berjaga-jaga baik di depan panggung maupun di sekitar pintu keluar memaksa penonton keluar dengan tertib. Konser Sepultura di Stadion Tambaksari Surabaya tercatat sebagai salah satu pertunjukan paling fenomenal tidak saja bagi group yang masih bertahan di era 2000-an tersebut, namun pula dalam sejarah pertunjukan musik di Indonesia.

Dari uraian di atas, ada hal yang hendak digarisbawahi oleh tulisan ini. Bahwa kematian penonton sesungguhnyalah sama sekali tak ada urusannya dengan aliran musik yang diusung. Jatuhnya korban nyawa seperti yang terjadi pada pertunjukan musik Ungu, Sheila On 7, Gigi, Beside, bahkan The Rolling Stones sekalipun lebih kepada faktor kelayakan dan teknis pengamanan situs pertunjukan. Pada titik kesadaran ini, menjadi relevan untuk dipertanyakan seberapa besar sebenarnya perhatian pemerintah pada dunia seni khususnya seni pertunjukan? Berapa banyak kota di Indonesia yang mempunyai semacam concert hall yang memadai baik dari segi daya tampung, akustik gedung, maupun keselamatannya? Begitu banyak uang rakyat digelontorkan untuk membiayai kesebelasan sepakbola dan segala hal yang berkaita dengan olahraga, namun mengapa hal yang sama tidak diberikan pada kesenian? Keprihatinan kalangan seniman bahwa olah raga lebih mendapat perhatian ketimbang olah rasa nampaknya menemukan kebenarannya dalam peristiwa pahit yang disebut-sebut sebagai konser maut itu.

Selang beberapa hari setelah kejadian, otoritas setempat meminta pengelola AACC untuk lebih selektif dalam memilih penyewa. Himbauan ini tentu baik agar kali lain sebelum menyewakan gedung, pengelola mempelajari untuk keperluan apakah gedung tersebut hendak disewa sehingga bisa lebih cermat dalam mengkalkulasi segala risiko yang mungkin terjadi. Namun jika himbauan itu dimaksudkan sebagai sebagai seleksi atas aliran musik tertentu, maka kemanakah lagi kegiatan berkesenian musisi metal Bandung hendak dicurahkan? Sama halnya dengan format kesenian lain, dalam musik metal pula terdapat dedikasi tinggi terhadap seni. Jika toh musik ini tidak bisa dinikmati oleh sebagian orang, tidaklah kemudian menjadi justifikasi untuk melakukan pelarangan dan pemberangusan terhadapnya.