Makalah disampaikan dalam Talkshow How To Get A Scholarship yang diselenggarakan oleh ALSA UNSOED, 15 Maret 2011, Gedung Justitia 3 FH UNSOED, Purwokerto. Download makalah dalam format MS Word di sini

  1. I. Pendahuluan

Studi di lembaga pendidikan tinggi luar negeri yang berkwalitas diyakini menawarkan kelebihan yang tak diperoleh dibandingkan jika seseorang menempuh pendidikan tinggi di negeri sendiri. Beberapa kelebihan itu antaranya adalah atmosfir pendidikan internasional dengan sarana dan prasarana dan metode pembelajaran yang lebih maju dan modern. Selain itu, kesempatan untuk memperluas jaringan (network) serta pengalaman lain berkaitan dengan kultur dan budaya negeri di mana studi di tempuh akan membentuk wawasan dan cakrawala berfikir yang lebih dibanding jika seseorang hanya berkutat di negeri sendiri. Beberapa kelebihan itu membuat studi di luar negeri menjadi menarik karena dipercaya mampu meningkatkan nilai jual seseorang di dalam pasar kerja maupun dunia kerja yang persaingan di dalamnya semakin lama semakin ketat.

Meski menawarkan segala kelebihan sebagaimana telah dipaparkan di atas, adalah rahasia umum bahwa studi di luar negeri juga mensyaratkan pembiayaan yang tidak sedikit. Mereka yang memiiliki kemampuan keuangan yang memadai barangkali tidak akan menganggapnya sebagai masalah yang berarti, namun bagi yang memiliki dana terbatas atau tak memiliki biaya samasekali, studi dengan beasiswa menjadi satu satunya jalan agar keinginan ini bisa dicapai. Persoalannya: untuk dapat meraih beasiswa tentu bukan perkara yang mudah lagi sederhana. Ia membutuhkan ketekunan, kesungguhan, kapabilitas, dan pula strategi serta perencanaan yang baik. Bisa dikatakan beasiswa tidak melulu ditentukan oleh kemampuan akademik maupun kecakapan bahasa asing semata. Tidak jarang, orang yang memiliki kapasitas yang cukup justeru gagal dalam persaingan untuk mendapatkan beasiswa. Sebaliknya, seeorang yang tekun mencari informasi, yang pada gilirannya mampu tampil baik dalam menjalani setiap tahapan seleksi justeru akan berhasil.

Makalah singkat ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman dasar berikut hal-hal yang seyogyanya diperhatikan untuk dapat meraih sebuah beasiswa luar negeri. Mendasarkan pada pengalaman, makalah ini diharapkan akan memudahkan usaha sesiapa saja dalam mendapatkan beasiswa  luar negeri.  Sudah barang tentu, apa yang dipaparkan dalam makalah ini adalah gambaran yang bersifat umum saja, yang mengharuskan setiap orang yang berminat memperoleh beasiswa luar negeri untuk mempelajari lebih lanjut secara detail persyaratan yang melekat pada beasiswa tertentu yang diinginkan maupun dengan lebih jauh lagi menimba pengalaman yang lebih luas dari mereka yang telah berpengalaman mendapatkan beasiswa.

  1. II. Memilih Beasiswa

Kendati beasiswa dapat dimaknai kurang lebih sebagai “studi tanpa harus mengeluarkan biaya”, namun harus diingat bahwa keberadaan di luar negeri nantinya tidak melulu terbatas pada kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan akademik saja. Lebih dari itu, diharapkan dengan bermukim untuk beberapa waktu lamanya di negeri orang akan menambah wawasan dan pengalaman akan berbagai aspek kehidupan. Dengan  mengenal dan memahami kultur, budaya, serta kehidupan di Negara, wawasan serta cakrawala berfikir akan menjadi lebih terbuka dan luas. Demikianlah, maka banyak pelajar Indonesia berkeinginan meraih menempuh studi di  berbagai Negara di Eropa karena ingin mengenal lebih dekat peradaban dan pula keindahan alam Eropa yang amat berbeda dengan Asia. Jika dibandingkan dengan studi di Australia misalnya, kesempatan untuk mengunjungi berbagai negara Eropa bisa jadi dipandang sebagai hal yang menarik dibandingkan jika studi di Australia yang kemanapun kita pergi, tetaplah hanya dalam satu negara. Memilih kota tempat studi juga bukannya tidak penting. Biaya hidup di suatu kota dalam negara tertentu bisa jadi berbeda-beda. Secara umum, tinggal di kota besar akan lebih mahal daripada di kota yang kecil. Namun bisa jadi tinggal dan menempuh studi di kota kecil juga akan mengakibatkan kebosanan tersendiri. Sebagai gambaran, Biaya hidup  di Melbourne relatif lebih mahal daripada di Adelaide, walau lebih murah daripada di Sydney. Namun Adelaide (dan juga Canberra) walau menawarkan biaya hidup yang lebih rendah memiliki karakteristik yang lebih sepi daripada Melbourne yang selalu penuh dengan atraksi seni dan budaya.  Ada kalanya pula pertimbangan budaya juga menjadikan orang untuk memilih studi di Negara Negara yang memiliki kultur kurang lebih sama semisal di Asia maupun di Timur Tengah. Ada pula yang (misalnya) memilih Australia sebagai negeri tujuan karena secara psikologis dekat dengan Indonesia, atau memiliki banyak relasi bahkan keluarga di sana. Segala pertimbangan ini tentu sepenuhnya terpulang pada mereka yang hendak melamar dan menjalani sebuah studi dengan beasiswa. Namun hendaknya selain pertimbangan bidang studi yang hendak ditempuh, pertimbangan mengenai Negara tujuan dengan segenap budayanya juga mendapatkan kalkulasinya tersendiri.

  1. III. Beberapa Persyaratan Beasiswa

Pemberi beasiswa sudah barang tentu memiliki tujuan tertentu yang melatarbelakangi untuk memberi dana studi pada orang maupun kelompok orang. Dalam konteks hubungan internasional, beasiswa bahkan dipercaya sebagai bagian dari diplomasi maupun strategi politik yang tentu saja memiliki muatan-muatan politik yang menguntungkan kedua belah pihak. Dengan memberikan beasiswa pada target sasaran yang dinilai strategis, diharapkan mereka yang menjadi penerima beasiswa akan akan bersikap lebih moderat dalam dinamika hubungan kedua Negara.  Oleh karenanya dapat dimengerti bahwa pada banyak beasiswa yang ditawarkan oleh pemerintah suatu negara,  kesempatan ditawarkan pada orang maupun kelompok orang yang memenuhi persyaratan dan eligibilitas tertentu. Syarat itu antara lain adalah kewarganegaraan, usia, pengalaman kerja, kualifikasi akademik, dan juga kapasitas seorang calon.  Dalam hal kapasitas seorang calon, pada umumnya mereka yang bekerja sebagai peneliti (researcher), tenaga pengajar (biasanya dari perguruan tinggi, walaupun ada pula untuk pengajar dalam pendidikan menengah dan dasar), jurnalis,  dan mereka yang ada dalam posisi strategis dalam pemerintahan dan atau non-governmental organization (NGO) adalah target sasaran dari beasiswa. Eligibilitas ini harus diperhatikan betul sebelum memulai aplikasi, karena kerapkali orang asal mendaftar saja yang berujung pada tidak diterimanya aplikasi beasiswa yang diajukan. Oleh karenanya sebelum memulai untuk melengkapi aplikasi beasiswa, harus benar-benar dipastikan bahwa orang yang hendak mengajukan beasiswa memang eligible untuk mengajukan lamaran. Jika tidak, maka segenap usaha untuk melamar akan menjadi sia-sia karena dipastikan sejak awal akan gugur dalam seleksi administrasi. Selain persoalan eligibilitas tadi, segala macam persyaratan yang diminta mestilah dipenuhi dengan baik. Ijazah, transkrip akademik, sertifikat bahasa Inggris (IELTS maupun TOEFL), akte kelahiran adalah beberapa contoh dokumen yang kerap diminta untuk dilampirkan dalam aplikasi beasiswa.

Apakah kita harus diterima dahulu di sebuah Universitas untuk dapat melamar beasiswa? Jawaban untuk pertanyaan ini adalah ada beasiswa yang tidak mengharuskan calon penerima untuk diterima terlebih dahulu di sebuah universitas (maupun lembaga pendidikan lainnya) dan ada yang tidak. Dalam hal yang pertama, lembaga pemberi beasiswa biasanya telah memiliki MoU dengan institusi pendidikan  yang akan menerima para penerima beasiswa. Pengalaman penulis pada tahun 2003, beasiswa Australian Development Scholarship (ADS) untuk studi Master  (S2) termasuk beasiswa yang tidak mengharuskan diterimanya seseorang terlebih dahulu di lembaga tersebut. Yang penting adalah bahwa calon penerima lolos dalam seleksi administrasi, bahasa, dan wawancara. Jika terpilih, maka barulah sang penerima beasiswa memilih institusi yang akan dipilihnya. Beasiswa model ini bisa dipandang sebagai hal yang menguntungkan karena orang  tak perlu melakukan kontak lebih intensif kepada institusi pendidikan. Dengan kata lain, selama persyaratan  telah dipenuhi, maka aplikasi bisa kita kirimkan. Kelemahan dari model ini adalah karena terbilang mudah, maka tentu saja jumlah peserta yang melamar biasanya cukup gigantis. Artinya tentu saja probabilitas untuk diterima juga cukup ketat karena besarnya jumlah pelamar.

Namun demikian, ada pula beasiswa yang mengharuskan orang untuk diterima terlebih dahulu di universitas/lembaga tujuan sebelum melamar. Beasiswa StuNed dari pemerintah Belanda misalnya mengharuskan pelamar yang ingin studi master mapun menempuh diploma di Belanda diterima dulu di salah satu program yang ditawarkan di negeri itu. Konsekwensinya, kita harus aktif mencari institusi yang kita pilih, melamar sebagaimana dipersyaratkan oleh institusi tersebut hingga akhirnya kita mendapatkan surat penerimaan yang kerap disingkat sebagai LoA (Letter of Acceptance). Surat penerimaan inilah yang nantinya akan dipakai/disertakan dalam melamar beasiswa. Beasiswa model ini memang cukup merepotkan, karena kita harus berjuang keras terlebih dahulu untuk diterima di institusi yang kita tuju. Namun, persyaratan LoA ini bisa juga dipandang sebagai keuntungan. Hal ini karena dengan sendirinya, mereka yang melamar beasiswa model ini adalah mereka yang telah benar-benar diterima, yang telah melampaui serangkaian pemenuhan persyaratan yang bisa dibilang tak mudah.  Oleh karenanya jika seseorang memang memiliki tekad bulat dan bersedia untuk bersungguh-sungguh berjuang, maka beasiswa model ini akan menyingkirkan pesaing yang sifatnya coba-coba yang diasumsikan akan lebih banyak dijumpai dalam beasiswa yang tidak mensyaratkan LoA. Untuk mendapatkan LoA, tentu kita harus menghubungi institusi yang hendak kita tuju dan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan untuk mendapatkan LoA. Kaitannya dengan ini, institusi yang kita tuju pada umumnya dapat menerima pendaftaran secara online melalui internet.

  1. IV. Tes Wawancara

Tahapan wawancara biasanya adalah tahapan yang harus dilalui oleh seseorang pelamar beasiswa manakala telah lolos dari seleksi administrasi ini. Jika sebuah beasiswa menjaring banyak kandidat, biasanya tahapan wawancara ini dilakukan secara tatap muka yang diadakan di tempat tertentu. Beasiswa ADS adalah beasiswa yang menerapkan sistem wawancara seperti ini. Namun ada kalanya, wawancara juga dilakukan secara jarak jauh menggunakan telpon sebagaimana pernah dialami penulis dalam beasiswa StuNED pada tahun 2009. Namun keduanya memiliki tujuan yang sama: mengetahui sejauh mana kesiapan pelamar beasiswa untuk menempuh studi di Luar Negeri yang pada gilirannya menentukan seberapa layak seseorang pelamar mendapatkan beasiswa.

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam wawancara biasanya berkisar mengenai studi yang akan ditempuh. Di sini, kita harus menunjukkan kesiapan kita dalam hal pengetahuan mengenai institusi yang kita pilih. Seandainya kita memilih Universitas A yang terletak di negara B dan di kota C, kita harus mampu menjelaskan alasan apa yang membuat kita menjatuhkan pilihan kita itu. Dari sini bisa disimpulkan bahwa pengetahuan yang memadai mengenai hal-hal tersebut di atas sudah barang tentu mutlak kita kuasai. Lebih jauh, kita juga akan ditanyai mengenai studi apa yang hendak kita tempuh dan atau penelitian yang akan kita lakukan. Kita harus mampu menjelaskan signifikansi dari penelitian itu bagi beneficiary beasiswa, yakni bagi negara Indonesia maupun institusi darimana kita berasal.

Agar kita siap dalam menjawab interview, tentu kita harus banyak melakukan research mengenai hal-hal di atas. Berkat teknologi internet, kita bisa mempelajari mengenai universitas, kota, dan bahkan negara yang kita tuju dengan mudah. Semakin kita bisa menjelaskan secara detail dan meyakinkan, maka semakin baiklah poin kita di hadapan pewawancara.

Interview juga memiliki tujuan untuk mengetahui sejauh apa kapasitas yang dimiliki oleh seorang calon penerima beasiswa. Oleh karena itu, kita harus pula mampu menjual diri dalam menghadapi interview. Tunjukkan track record yang kita punya, capaian-capaian yang telah kita raih selama ini. Adalah penting pula bagi kita untuk membawa serta dokumen-dokumen yang menunjang hal ini misalnya hasil publikasi, sertifikat, dan lain-lain yang relevan walau dalam panggilan interview hal ini tidak secara eksplisit disebutkan. Hal ini akan meyakinkan pewawancara bahwa kita memang orang qualified dan oleh karenanya  pantas untuk dibiayai. Terkait dengan bidang ilmu yang akan kita dalami melalui studi lanjut, pewawancara bisa jadi pula akan menanyakan pada kita suatu kasus atau persoalan yang berkaitan dengan bidang ilmu itu. Oleh karena itu, disarankan agar kita juga benar-benar menguasai apa yang hendak kita lakukan. Kerapkali dalam kesempatan interview ini kita ditanya sejauh mana kita telah mengkonsultasikan hal ini pada calon pembimbing di universitas yang kita tuju. Oleh karenanya, diupayakan kita memang telah benar benar membina hubungan dan komunikasi dengan calon supervisor (biasanya Profesor) yang ada di LN. Bukti komunikasi berupa print out email sangat baik dan menunjuang untuk dibawa dan ditunjukkan pada pewawancara, yang akan menjadi bukti bahwa kita memang benar-benar serius hendak mendalami apa yang hendak kita pelajari, sekaligus sebuah garansi bahwa penelitian yang akan kita lakukan memang secara akademik layak untuk dilakukan.

  1. V. Fasilitas Beasiswa

Satu beasiswa bisa jadi berbeda dengan beasiswa lain. Ada beasiswa yang tak saja memberikan fasilitas pembayaran tuition fee, asuransi, dan transportasi, namun juga memberi tunjangan hidup untuk keluarga. Beasiswa StuNed hanya membebaskan kita dari biaya kuliah, memberikan uang saku untuk hidup, asuransi, dan transportasi, namun tidak memungkinkan kita membawa keluarga. Sementara itu, pengalaman seorang rekan yang mendapat beasiswa di Spanyol tidak ditunjang biaya hidup, namun hanya terbatas pada pembebasan biaya kuliah. Yang terakhir ini biasanya ada pada beasiswa yang diberikan oleh universitas. Penulis pernah pula berjumpa dengan seorang mahasiswa Indonesia yang studi pada IOB Universitas Antwerp, Belgia. Pada penulis ia mengatakan bahwa beasiswa yang didapatkannya adalah didapat dari universitas tersebut, sementara untuk biaya keberangkatan dan hidup ia harus merogoh dari kantong sendiri. Untuk itu, di kota Antwerp ia bekerja paruh waktu, yang seingat penulis dikatakannya cukup untuk menunjang kehidupannya di Belgia.

  1. VI. Tinggal di Luar Negeri

Jika beasiswa telah dikantungi, maka kita harus mempersiapkan segala sesuatu baik untuk kehidupan sehari-hari di luar negeri maupun untuk studi yang akan kita tempuh. Uang saku yang cukup untuk menunjang biaya hidup sementara mutlaklah diperlukan, walau tak terlalu besar. Barang-barang yang bisa dibawa dari tanah air bisalah dipersiapkan semisal rice cooker, pakaian hangat, peralatan elektronik, dan lain lain kebutuhan pribadi. Untuk ini, kita perlu banyak bertanya pada mereka yang telah lebih dahulu menempuh studi di luar negeri.

Untuk akomodasi pada umumnya diserahkan pada kita untuk menentukan sendiri tempat tinggal. Secara umum, tempat tinggal dekat kampus tentulah lebih mahal daripada yang jauh. Penghematan biaya dapat dilakukan dengan sharing kamar dengan beberapa mahasiswa. Satu kamar bisa berbagi untuk dua atau tiga mahasiswa. Jika ini dilakukan, tentu akan banyak menghemat, walaupun privasi sedikit banyak akan terkurangi. Pengalaman penulis pada waktu studi di Australia memilih lokasi tinggal yang cukup jauh dari universitas, namun masih dalam jarak yang dapat ditempuh dengan jalan kaki atau bersepeda, sehingga walau tinggal dalam satu kamar sendiri, namun biaya yang dikeluarkan tak terlalu mahal. Sementara itu, manakala studi singkat di Belanda, penulis memilih untuk tinggal di dormitory alias asrama mahasiswa, yang letaknya tepat di belakang kampus karena pertimbangan padatnya jadwal course yang harus ditempuh.

Untuk menambah uang saku, adalah umum bagi mahasiswa untuk bekerja paruh waktu atau sambilan. Hal ini bisa dimengerti mengingat upah yang diterima sebagai pekerja paruh waktu jika dikurs ke dalam mata uang rupiah akan didapatkan nominal yang cukup lumayan. Yang kerap dilakukan mahasiswa ketika studi di luar negeri adalah adalah bekerja di restauran, menjadi pengantar brosur, pengantar koran, maupun menjadi tukang cuci piring. Bekerja seperti ini tentu menghasilkan uang yang lumayan, namun seringkali juga akan menyita waktu studi. Oleh karenanya, kita harus pandai mengukur kemampuan fisik dan manajerial waktu jika hendak bekerja paruh waktu. Tujuan utama tinggal di luar negeri yakni untuk studi dan meraih gelar kesarjanaan haruslah ditempatkan di urutan teratas dari kepentingan apapun termasuk persoalan mencari uang saku.

  1. VII. Penutup

Studi di luar negeri yang pada mulanya hanyalah impian sebenarnya bisa diperjuangkan asal kita bertekad kuat untuk meraihnya. Untuk itu, diperlukan ketekunan dan kegigihan untuk mencari informasi seluas-luasnya akan berbagai aspek beasiswa. Komunikasi dengan alumni beasiswa luar negeri maupun mahasiswa Indonesia yang masih menempuh di luar negeri yang menjadi negara tujuan kita amat penting dilakukan. Adalah berguna pula jika kita mengikuti mailing list beasiswa agar tak ketinggalan berita mengenai informasi beasiswa terbaru. Dengan bekal pemahaman yang lebih akan segala aspek beasiswa, diharapkan probabilitas untuk diterima dalam melamar sebuah beasiswa luar negeri akan lebih besar.


[1] Makalah disampaikan dalam ceramah “Scholarship Talkshow: How To Get A Scholarship” Diselenggarakan oleh Asian Law Student Society, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto 15 Maret 2011.

[2] Dosen pada Fakultas Hukum UNSOED, penerima beasiswa Australian Development (ADS) Scholarship, Studeren in De Nederlanden (StuNed) Scholarship, dan beasiswa dari South East Asia Human Rights Network (SEAHRN).