188212_10150261399903823_4224102_nSuatu hari di minggu ke-empat bulan Juli  2011 saya berjumpa dengannya dalam event Seminar Internasional yang diselenggarakan oleh Yayasan Percik, Salatiga. Dalam forum yang rutin digelar setiap tahunnya itu saya hadir sebagai salah satu pemakalah,  sedangkan ia, kalau tak salah ingat, berperan sebagai salah satu anggota steering committee. Bertempat di rungan semi terbuka dengan hawa Salatiga nan sejuk, kegiatan seminar diikutinya secara penuh sedari pagi hingga petang. Ia terlihat begitu involved, duduk membaur bersama para peserta sembari menyimak  rangkaian presentasi sambil sesekali mengerjakan hal lain; multitasking dengan mengetik di netbook kecil miliknya.  Sosoknya yang sepuh di tengah forum yang hampir kesemuanya adalah  generasi yang terpaut jauh di bawahnya itu membuatnya menjadi kontras tersendiri. Namun begitu, pembawaannya yang enerjik serta jauh dari keangkuhan personal maupun intelektual membuat segala jarak dan perbedaan yang terbentang seakan tak pernah ada. Sesekali atas permintaan moderator ia memberi komentar atas paparan yang disampaikan para peserta. Hari ke-dua seminar dimana saya dijadwalkan untuk menyampaikan makalah tak diikutinya hingga selesai. Di sela-sela makan siang  ia memberitahu saya bahwa sore hari ia sudah harus ada di Semarang guna menghadiri ujian disertasi. Walau tak dapat menghadiri sesi presentasi saya, ia mengatakan bahwa ia telah menyempatkan untuk membaca paper yang saya buat dan memberikan pujian atasnya. Beberapa bulan setelah perjumpaan itu, dari negeri Belanda saya mengirimkan pesan singkat padanya untuk sekedar berbasa basi. Tak lupa seperti biasa saya mengingatkan (untuk tak mengatakan ‘menagih’) agar ia tak lupa mengirimkan soft copy naskah seminar maupun aneka tulisan lainnya yang terbaru untuk diunggah di situs soetandyo.wordpress.com. Atas inisiatif sendiri dan dengan persetujuannya, saya memang membuat dan mengelola blog tersebut agar aneka pemikirannya dapat diakses oleh masyarakat luas dan tak berhenti di forum forum tertentu saja. Selain perihal naskah, saya menyinggung aktifitas kerjanya yang tak juga menyurut dan berkurang semenjak pensiun pada 1997. Ia terus disibukkan dengan kegiatan akademik di seluruh penjuru tanah air guna mengisi aneka diskusi, seminar, mengajar hingga membimbing serta menguji disertasi dan aneka kegiatan lainnya.  Membalas pesan saya, ia mengatakan bahwa  kelak nanti di umur delapanpuluh  ia akan “pensiun sepensiun-pensiunnya”.  Demi membaca jawabnya itu, dengan sendirinya saya membayangkan masa pensiun yang akan dijalaninya itu; hari tua yang diisi dengan apapun kesenangan pribadi yang sebelumnya nyaris tak leluasa dilakukan setelah hampir seluruh waktu dalam hidupnya diabdikan untuk ilmu pengetahuan. Saya membayangkan pastilah ia akan berkebun menanam berbagai tanaman yang kerap ia beli bibitnya, dengan sekedar bersarung dan berkaus singlet, penampilan di kesehariannya yang sering saya saksikan di kediamannya di Surabaya. Apa yang saya bayangkan di atas tak pernah menemui kebenarannya di alam nyata. Di akhir Agustus 2013, saya menjenguknya di Rumah Sakit Elizabeth Semarang, tempat dimana ia telah sekitar satu bulan menjalani perawatan. Kondisinya sudah memburuk dan bahkan tak lagi dapat berkomunikasi verbal. Ada rasa sesal mengapa tak sedari awal-awal menengok ketika ia masih bisa berkomunikasi dengan relatif baik. Sebelumnya saya berfikir, ia pastilah hanya sekedar mengalami kelelahan biasa karena faktor usia dan tak akan berlama-lama di rumahsakit. Saya tahu, ia memiliki masalah dengan ginjal dan juga lutut yang keduanya karena faktor usia, namun selama itu ia baik-baik saja. Sebelum meninggalkan rumahsakit, padanya saya memohon diri untuk pulang ke rumah sekaligus berpamitan hendak kembali lagi ke Belanda beberapa hari lagi. Ia tak membalas ucapan  saya, namun pandangan mata dan gerak jarinya seakan mengerti dan mengiyakan. Ucapan itu ternyata menjadi komunikasi saya yang terakhir dengannya. Pada 2 September  2013 pagi, ia berpulang ke keabadian  di usianya yang ke delapanpuluh, didampingi Endang Larasati, gurubesar FISIP UNDIP yang mendampinginya setahun terakhir sebelum wafatnya sebagai isteri. Ungkapan dan ucapan dukacita mengalir sejak wafat hingga pemakamannya di Surabaya. Salah satu figur yang menyampaikan duka mendalam adalah Prof. Jan Michiel Otto yang pula sahabat karibnya. Melalui surat elektronik, Direktur Van Vollenhoven Institute Universitas Leiden itu menulis; “I have always been deeply impressed by Pak Tandyo. He embodied so many positive human capacities: his warm friendliness, his relentless idealism, his sharp mind, his continuous commitment, his engagement with others irrespective of age or social position, his gentle piousness, the broadness of his concern with justice. The social-legal community in Indonesia has lost one of its great pioneers”. Bagi begitu banyak akademisi terutama mereka yang mempelajari dan atau menekuni ilmu-ilmu kemasyarakatan dan terkhusus lagi socio-legal studies, kepergiannya adalah suatu kehilangan besar. Soetandyo adalah figur cendekia yang begitu mumpuni dalam ilmu, sederhana dan bersahaja dalam kepribadian. Sebagaimana dituliskan oleh Prof Otto di atas, ia (bersama Prof. Satjipto Rahardjo) adalah salah satu pioneer, perintis studi-studi sosio-legal di tanah air.  Bagi saya, kepergiannya terasa lebih mendalam dan lebih dari sekedar hilangnya figur penting dalam dunia akademik, namun pula hilangnya bagian dari keluarga yang dicintai dan dibanggakan. Tulisan ini adalah catatan in memoriam atasnya, seorang ilmuwan sosial besar yang pernah dimiliki Indonesia yang kebetulan adalah paman saya sendiri. Judul tulisan ini, Soetandyo Wignjoebroto: Mahaguru Yang Saya Kenal, terinspirasi dari tulisan berjudul Mochtar Kusumaatmadja: Manusia Yang Saya Kenal dan Pemikirannya yang pernah ditulisnya dan diterbitkan sebagai kata pengantar buku Mochtar Kusumaatmadja dan Teori Hukum Pembangunan (2002).

526192_3005981836751_1717725491_n

Soekandar Wignjosoebroto & Siti Nardijah. Foto diambil pada 1928 kala keduanya bertunangan. Sekira empat tahun kemudian Soetandyo dilahirkan sebagai anak kedua sekaligus anak lelaki pertama dari 11 bersaudara.

KRMT Mertonagoro dan Rr Gandarijah, Kakek dan Nenek Soetandyo, tinggal di Kepatihan Kulon, Sol

Soetandyo lahir di Madiun pada 19 November 1932.  Ayahnya bernama Soekandar Wignjosoebroto, seorang pegawai Nederlandsch-Indie Staatspoorweg Maatschappij (NISM) yang dilahirkan di Lemah Abang pada 25 Desember 1902.  Ayah Soekandar yang bernama Wongsoredjo pula seorang pegawai NISM yang pernah bertugas di Stasiun Cirebon dan kemudian berpuncak karir sebagai Kepala Halte (stasiun pemberhentian) Klari, Jawa Barat. Dari garis ayah yang pegawai kereta api, Ibunda Soetandyo yakni Raden Rara Siti  Nardiyah  mewariskan darah aristokrat padanya. Nardiyah adalah putri dari Soenarman, seorang pegawai Keraton Kasunanan Surakarta yang manakala bertugas menggunakan nama Prajamartana dan kemudian Mertanegara setelah purna tugasnya. Soenarman adalah anggota societet Abipraja, sebuah perkumpulan kaum aristokrat pada masanya, sedangkan sang nenek Raden Rara Gandarijah yang pula puteri pejabat Kepatihan yang pula merupakan anak keturunan Sunan Bayat, salah seorang yang dikenal sebagai penyebar agama Islam di Jawa. Sebagai anak yang bergelar Kanjeng Raden Mas Tumenggung, Nardiyah beruntung dapat bersekolah selama tujuh tahun di Koningin Emma School (K.E.S.), sebuah sekolah dasar berpengantar bahasa Belanda untuk para gadis Jawa dari keluarga yang berkedudukan tinggi. Siti Nardiyah baru berusia sekira enam belas tahun manakala menikah dengan Soekandar, hal mana membuat orang kerap terkecoh dan mengira anak-anak yang dilahirkannya, termasuk Soetandyo, sebagai adik-adiknya. Dari sinilah Soetandyo dan saudara-saudaranya kemudian memanggil sang ibu dengan panggilan Yune, berasal dari kata mbakyune yang dalam Jawa bermakna kakak perempuan. Demikianlah, di awal dasawarsa 1930-an manakala Indonesia sebagaimana sekarang ini ada masih merupakan koloni Kerajaan Belanda, sekira sepuluh tahun sebelum  kedatangan Jepang, seorang Soetandyo dilahirkan. Ia adalah anak ke-dua dari sebelas bersaudara. Tiga adiknya meninggal dunia dalam usia kanak, bahkan ketika masih terhitung bayi. Kakaknya, Soekandiyah, kelak kemudian menjadi seorang bidan di Kediri sedangkan adiknya langsung yakni Soekandinah menjadi guru ilmu hayat SMA. Dalam keluarga, Soetandyo dipanggil sebagai “ndok”, yang walaupun berkemiripan dengan suku kata terakhir namanya, –dyo namun sebenarnya dari kata blendok, air  yang keluar dari pori-pori bambu yang dibakar yang  tiap sore dia gunakan untuk mengobati sakit kulit di masa bocah. Dari kota kelahirannya Madiun, keluarga Soekandar berpindah ke Surabaya, dan menghuni rumah dinas pegawai kereta api di Jalan Babat, Pasar di kawasan Turi tak jauh dari Stasiun Semut. Di kala pertempuran berkecamuk antara pasukan sekutu dan massa rakyat pada November 1945, Soetandyo bersama kedua orang tua, kakak dan adiknya berjalan kaki mengungsi mengikuti ke mana saja rombongan massa bergerak. Ia menyusuri rel kereta api hingga akhirnya sampai di Stasiun Kereta Api Bangil, dekat Sidoarjo dan tinggal beberapa lama di pengungsian dengan menumpang tinggal di salah satu rumah penduduk. Hidup di pengungsian dijalani Soetandyo yang terpaksa harus makan seadanya dan bahkan tidur di dalam lesung, alat tradisional untuk menumbuk padi. Perhiasan dan segala yang ada dimiliki oleh orang tuanya dijual demi menyambung hidup.Konflik antara Belanda dan Indonesia (oleh pihak Belanda disebut sebagai Politioneel Actie dan pihak Indonesia menyebutnya sebagai Agresi Militer) membuat Soekandar menghadapi konsekwensi sulit atas pilihannya; kehilangan kerja dikarenakan menolak bekerja untuk Belanda. Soekandar yang Republiken tulen kemudian membawa isteri dan anaknya ke Solo, ke rumah mertuanya di Kepatihan Kulon. Demikianlah dari Surabaya, Soetandyo kemudian turut tinggal bersama kakek dan neneknya di Solo. Guna membantu orang tuanya, Soetandyo bersama sang adiknya Soekandinah  sempat beberapa waktu lamanya berjualan minuman cincau di dalam Pasar Legi, Solo.

BWWWTg5CcAATw1o

SMA Margoyudan di masa lalu. Di sinilah Soetandyo muda menimba ilmu di masa remaja.

Di  kota Solo pulalah Soetandyo menyelesaikan sekolah menengahnya yakni SMA  Bagian A yang merupakan Jurusan Sastra yang terletak di kawasan Margoyudan. Untuk diketahui, SMA Bagian A ini dahulunya adalah Algemenee Middelbare School (AMS) Afdeling A1 dengan kekhususan sastra dan humaniora timur dengan lulusannya antara lain sastrawan Achdiat Kartamihardja, Amir Hamzah, dan Armijn Pane. Kelak kemudian sekolah ini pulalah yang melahirkan penulis masyhur seperti Sapardi Djoko Damono, Sarwendo (alias Arswendo) Atmowiloto dan Danarto.  ‘Terjerumus’nya Soetandyo ke SMA A (dan bukannya SMA Bagian C yang merupakan Jurusan Sosial sebagaimana menjadi bidang ilmu yang kelak kemudian ia tekuni) tak lepas dari keteledorannya sendiri. Ketika teman-temannya telah mendapatkan sekolah selepas menamatkan SMP, hanya dia sendiri belum terdaftar di SMA manapun. Hal itu terjadi karena ia memang tidak mencari dan mendaftar sekolah. Soetandyo berfikir bahwa para gurulah yang akan mendaftarkan sekolah untuknya. Beruntung adik sang nenek ada yang bisa membantu memecahkan masalah dengan mencarikan sekolah dan saat itu hanya SMA Bagian A yang masih bisa menerima murid walau terlambat. Walau sebelumnya prestasi sekolahnya tak bisa dibilang baik, pada akhirnya Soetandyo berhasil menyelesaikan studinya di SMA yang kini dikenal sebagai SMA N 1 itu sebagai lulusan terbaik se-kota Solo. Ketika kondisi perpolitikan mulai membaik seiring penyerahan/pengakuan kedaulatan pada 1949, Soekandar mendapatkan pekerjaannya kembali di perekeretaapian yang kala itu telah berubah nama menjadi Djawatan Kereta Api (D.K.A.).  Ia pun memboyong keluarganya kembali ke Surabaya.

Soetandyo di awal 1950-an, ketika masih menjadi mahasiswa Fakultas Hukum

Soetandyo di awal 1950-an, ketika masih menjadi mahasiswa Fakultas Hukum UGM Cabang Surabaya (kelak menjadi FH Unair)

Dibesarkan di tengah keluarga  kelas menengah yang berbahasa Belanda dengan baik dan menempuh pendidikan dasar di masa kolonial memberi keuntungan tersendiri bagi pemuda Soetandyo. Ia tak mengalami kesulitan berarti manakala  menempuh studi ilmu hukum di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada cabang Surabaya pada awal 1950-an (pada 1954 FH tersebut bergabung dengan FH UNAIR seiring dengan berdirinya UNAIR) dimana aneka literatur dan perkuliahan masih menggunakan Belanda sebagai bahasa pengantar. Kelak di dasawarsa 1990-an kemampuan bahasanya ini begitu menunjang risetnya terkait sejarah hukum Indonesia di Van Vollenhoven Institute, Leiden Universiteit. Penelitian di negeri yang diimpikannya untuk dikunjungi sejak kanak itu menghasilkan mahakarya Dari Hukum Kolonial Ke Hukum Nasional (1992), sebuah kitab yang menjadi salah satu rujukan terpenting mengenai perkembangan hukum di Indonesia sejak masa kolonial hingga kemerdekaan. Buku itu sebagaimana dapat disimpulkan dari prakata yang dituliskan sendiri olehnya, adalah semacam sequel dari Indonesian Legal History karya John Ball dari The Australian National University yang menulis perkembangan hukum di aneka wilayah kepulauan Nusantara yang kelak bernama Indonesia. Karya lain yang  juga dihasilkan dari risetnya di Belanda adalah Desentralisasi Dalam Tata  Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda (2004). Di sela-sela risetnya di Leiden ia sempat pua mempresentasikan paper berjudul Legal Development and Legal Education in Post-War Indonesia (1942-1992).

UniversityofMIchiganDiag

Kampus The University Of Michigan, dimana Soetandyo meraih gelar MPA, satu-satunya gelar kesarjanaan yang disandangnya.

Karir akademik yang menjadi jalan hidup Soetandyo memang sering lekat dengan keseriusan, hidup yang menyepi ditengah tumpukan data baik fisik maupun non fisik. Namun begitu, bukan berarti masa penggemar ketela ini kering dari pergaulan. Soetandyo muda gemar berpetualang di alam bebas dan melibatkan diri dalam gerakan kepanduan, sebuah organisasi yang kini dikenal sebagai Pramuka. Bersama kawan-kawannya bahkan pernah berkeliling Jawa dengan bersepeda.  Layaknya pemuda pada umumnya, ia pun membina hubungan dengan seorang mahasiswi sesama anggota klub belajar. Hubungan ini tak langgeng karena sang kekasih yang bernama Tjemblek tersebut wafat setelah terserang malaria dan tifus pada saat bersamaan, suatu kehilangan yang membuatnya untuk berapa lama dirundung duka mendalam.  Sementara itu prestasi akademiknya makin bersinar manakala menempuh studi di Fakultas Hukum UNAIR. Saking menonjolnya, ia selalu diperebutkan para dosen untuk menjadi asisten setiap kali selesai menempuh ujian kenaikan tingkat. Soetandyo kemudian memulai karirnya sebagai pengajar di Fakultas Hukum Universitas Airlangga sejak 1959 sebagai Asisten Pembantu. Ketekunannya belajar berbuah kesempatan untuk belajar di Amerika Serikat tepatnya di The University of Michigan sebelum bahkan sebelum ia sempat meraih gelar sarjana hukum di Fakultas Hukum UNAIR. Beasiswa ini diperolehnya secara tak sengaja karena mahasiswa yang sebelumnya diunggulkan adalah anggota Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), sebuah organisasi  berafiliasi dengan komunis yang dalam konteks perpolitikan kala itu tidak disukai oleh Amerika Serikat. Sekembalinya dari Amerika, Soetandyo yang resmi menyematkan gelar MPA ini pun menjadi dosen tetap di Fakultas Hukum UNAIR, dan gelar sarjana hukum tak pernah dimilikinya. Dalam perjalanannya kemudian ia membidani kelahiran Fakultas Ilmu Sosial  (FIS) UNAIR pada 1977 serta menjadi Dekan yang pertama di kampus baru tersebut. Sebagai keponakannya, sosok Soetandyo pertama kali hadir dalam pemahaman saya yang masih kanak sudah tentu bukan sebagai akademisi namun sebagai paman dengan aneka kisah mengenainya baik di masa kanak, remaja, maupun dewasa. Karena keluarga kami tinggal saling berjauhan, perjumpaan dengannya hanya terjadi di berbagai acara keluarga seperti hari raya, perayaan perkawinan, maupun arisan keluarga.  Pernah di tahun 80-an, ia tiba-tiba mengunjungi rumah kami dengan menumpang  becak, sebuah kunjungan yang seingat saya amat singkat. Ia membawa oleh-oleh aneka makanan yang salah satunya adalah potato chips merek Pringles yang kemudian saya ketahui adalah penganan ringan  kegemarannya. Tulisan  Daniel Sparringa yang tertuang dalam sebuah buku kado ulang tahun untuknya yang ke 70 memberi petunjuk bahwa kunjungan itu terjadi di sela-sela acara seminar/diskusi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Jenderal Soedirman. Daniel yang kala itu menjadi asisten Soetandyo menuliskan betapa selama perjalanan meninggalkan Purwokerto selepas seminar, ia diminta oleh Soetandyo untuk memanfaatkan waktu dengan mengetik makalah di dalam kendaraan. Secuil kisah yang diabadikan Daniel memberi gambaran kecil betapa  Soetandyo tak bisa diam menganggur dan selalu memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang berharga dan produktif. Kelak Daniel Daniel inilah yang selaku Staf Khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membacakan sambutan Presiden dalam pemakaman Soetandyo di Makam Keputih, Surabaya pada 3 September 2013. Sosok Soetandyo yang tak sekedar sebagai paman melainkan pula seorang akademisi sosial mulai saya sadari manakala saya menginjak bangku SMA dan kemudian mahasiswa hukum di paruh awal 1990-an.  Rumah dinas dosen UNAIR di Jalan Dharmawangsa 3 Surabaya menjadi tempat tujuan saya untuk menghabiskan waktu dengan banyak membaca aneka buku dan majalah yang dilangganinya. Bisa dimengerti, di masa ketika internet belum menjadi fenomena umum seperti sekarang ini, aneka bacaan fisik seperti Asiaweek, Time, dan Far Eastern Economic Review serta pelbagai buku ilmu hukum dan sosial dari aneka penerbit asing yang ada di rumahnya adalah kemewahan yang bisa turut saya nikmati.  Dan sepanjang pengetahuan saya, buku dan aneka bacaan adalah satu-satunya kemewahan yang saya temui di rumah dinas bergaya 1950-an yang terkesan amat sederhana itu. Ia tak bermobil bagus apalagi mewah. Ia tak mengenakan aksesoris apapun seperti aneka batu atau jam tangan yang berganti-ganti, pakaian maupun sepatu yang mengkilat mahal sebagaimana gaya hidup yang kerap saya saksikan menghinggapi sebagian insan akademik di tanah air manakala telah mencapai level tertentu dalam karir.  Ia tak bisa mengemudikan mobil. Kemana-mana ia lebih suka berjalan kaki, angkutan umum atau sepeda. Alih-alih leluasa untuk berdiskusi seputar ilmu dengannya, hubungan keluarga antara kami justeru menjadikan kerikuhan tersendiri bagi saya, sehingga hampir-hampir tak pernah berinteraksi dengannya perihal akademik secara langsung. Kedekatan saya dalam ranah keilmuan adalah dengan mengarsip dan mengunggah aneka tulisan dan pemikirannya ke blog sebagaimana telah saya ungkap di awal. Dalam kerja sukarela itulah saya merasa hubungan kami sebagai keluarga dan sesama akademisi menemukan titik perjumpaannya. Terkait dengan situs ini,  saya ingat bahwa menjelang berpulangnya, ia mengeluh karena sering menjumpai orang mengcopy paste saja tulisannya itu, sehingga ia merasa enggan jika naskah-naskahnya diunggah secara online. Lepas dari itu, seringkali saya merasa iri dengan banyak kolega, kawan, maupun relasi yang dari pembicaraan yang saya dengar baik langsung maupun tidak langsung mengungkapkan adanya kedekatan dan interaksi akademik yang intens dan erat dengannya. Di sisi lain saya merasa bangga karena sepanjang seingat saya, mereka yang pernah berinteraksi dengannya secara pribadi maupun intelektual selalu mengutarakan kekaguman dan penghormatan atas integritasnya. Mereka yang tak pernah berjumpa dan mengenal secara langsung pun begitu menghormat dan menghargai aneka pemikirannya yang dikenal lewat berbagai tulisan. Walau kerap berkunjung dan menginap di rumahnya bukan berarti saya sering berjumpa dengannya di rumah. Isterinya Asminingsih (telah terlebih dahulu wafat pada 2005) pernah berkata pada saya bahwa setelah pensiun, kegiatan dan kesibukannya bukannya semakin berkurang dan malahan semakin padat.  Kerapkali ia telah menghilang di pagi buta menuju airport untuk terbang menuju  Jakarta, Jogjakarta maupun kota lainnya, dan sekalipun petang harinya terkadang telah kembali berada di Surabaya, seringkali ia telah kembali berada di airport pada keesokan harinya untuk melakukan pengembaraan akademik. Walau status PNS-nya adalah Dosen di Universitas Airlangga, Kampus UNDIP Semarang seakan telah menjadi rumah keduanya. Ia juga menjadi Dosen Luar Biasa di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta pula Universitas Pancasila Jakarta. Sebagaimana telah disinggung di muka, Soetandyo bukanlah orang yang bisa dan biasa diam menganggur. Di kamar tidurnya yang pula berjejalan ratusan buku ia akan beraktifitas dengan membaca atau menulis di atas writing pillow. Saya ingat, bahkan di acara keluarga sekalipun ia kerapkali mencuri waktu untuk bekerja. Pernah dalam  suatu kesempatan pertemuan keluarga di rumah keluarga besar Soekandar Wignjosoebroto di Ngagel Jaya Selatan IV/9 Surabaya, ia saya lihat memasuki salah satu kamar  duduk bersila dan mulai mengetik di atas tempat tidur setelah berbasa basi sebentar dengan anggota keluarga yang lain. Sebagai pendidik, Soetandyo dikenal memiliki kemampuan didaktika yang memesona siapapun yang mengikuti perkuliahan maupun ceramahnya. Manakala memberi pemahaman atas sesuatu hal dan atau fenomena, ia akan benar-benar menyentuh hal-hal mendasar atas apa yang tengah dibincangkannya yang pada gilirannya membawa orang kepada pemahaman yang utuh. Saya ingat kuliah Sosiologi Hukum yang diajarkannya sebagai Dosen Luar Biasa di Fakultas Hukum UNSOED dimana ia menerangkan perihal parlemen dari sudut etimologis, sebagai berasal dari kata parlor yang dalam bahasa Perancis lebih kurang bermakna ‘bicara’. Dari situ ia menegaskan bahwa tugas utama sebuah lembaga perwakilan adalah menyuarakan, menjadi mulut mereka yang diwakili. Pula ia memberi contoh-contoh aktual seperti halnya sanksi hukuman/pidana yang dalam ide-ide pemikir hukum pidana adalah ketidakenakan, nestapa, dan atau derita yang pada kenyataannya tidak selalu dimaknai demikian di masyarakat. Fenomena carok, perkelahian tanding satu lawan satu dengan senjata celurit di Madura misalnya, dijelaskannya melalui optik socio-legal sebagai perilaku dalam masyarakat dimana sanksi hukum pidana ternyata tak mencegah orang dari melakukan apa yang terbilang strafbaarfeit dikarenakan pembelaan terhadap harga diri dan maruah sebagai lelaki adalah segala-galanya bagi lelaki Madura. Ia memberi eksplanasi melalui fenomena yang pernah dikajinya itu bahwa apa yang dimaui pembuat hukum tidak selalu berkesesuaian dengan kenyataan manakala hukum itu didayagunakan di masyarakat. Namun begitu ia mengingatkan bahwa tugas seorang ilmuwan sosial yang mengkaji hukum di masyarakat adalah memberi eksplanasi, dan bukan sekali-kali memberi resep normatif atas apa yang menjadi simpulan kajiannya. Tak saja seorang pembicara yang memikat, peraih Yap Thiam Hien Award 2011 ini pula dikenal mampu menuangkan aneka pemikiran dan gagasan secara tertulis dengan bahasa yang begitu luwes, cerdas dalam diksi dan gaya bahasanya yang amat sastrawi dan berciri khas. Di era 90-an ia menjadi kolumnis tetap di Harian Jawa Pos, yang bertajuk Kiat Hidup di Tengah Perubahan yang berisi aneka dialog dua tokoh fiksi bernama Dul dan Dal. Dalam kolom yang terletak di halaman muka itu, ia mengangkat persoalan sehari-hari dalam masyarakat sehingga persoalan hukum dan sosialk sehari-hari bisa dipahami dengan mudah. Kemampuannya dalam tulis menulis sangat boleh jadi terbentuk dari studinya semasa di SMA Jurusan Sastra sebagaimana telah dikisahkan di muka. Dunia kepengarangan memang diakrabinya dengan menulis di  Kunang-Kunang, sebuah majalah anak-anak yang terbit di penghujung 1940-an. Tulisannya kerapkali dimuat sehingga untuk ‘mengakali’ redaksi agar tak mencekalnya akibat karya yang  terlalu sering dimuat itu, ia menggunakan tak kurang dari tiga nama pena, salah satunya adalah Diah Hatmanti.  Namun berganti nama saja tidak cukup. Agar tak kentara bahwa karya tulis itu berasal dari goresan tangannya, Soekandinah adiknya ia minta untuk menuliskan karya-karyanya. Selain studi resmi di SMA dengan penjurusan di bidang sastra, sang ibu Siti Nardiyah yang kerap mendongeng menjadi bekal tersendiri akan imajinasi kepengarangan seorang Soetandyo. Dalam satu kesempatan pada saya ia menuturkan betapa kisah yang didasarkan pada pengepungan kota Leiden (1573-1574) sebagaimana diceriterakan sang ibu kepadanya sewaktu kanak begitu berkesesuaian dengan apa yang dilihatnya manakala ia tinggal beberapa lama di Leiden. Kisah itu sendiri didapat Siti Nardiyah manakala bersekolah di K.E.S. Solo. Soetandyo mengatakan bahwa seluk beluk kota dalam ceritera sang ibu begitu persis dalam kenyataan sekalipun Siti Nardiyah tak pernah sekalipun menginjakkan kaki di negeri Belanda hingga akhir hayatnya di 2001. Sisi lain dari sosoknya yang dikenal luas adalah sifatnya yang easy going. Saya membaca bagaimana ia terbiasa menggunakan bis di Jakarta  untuk menuju kantor Komnas HAM tempat dimana ia pernah mengabdi pada dasawarsa 90-an.  Kesederhanaannya ini saya saksikan sendiri  manakala saya dan kawan-kawan dari Kelompok Studi Mahasiswa Hukum KRISNA mengundangnya menjadi pembicara Seminar Nasional di Hotel Dynasti Purwokerto (kini Hotel Horison) sekira akhir 1997.  Ia datang ke kota kami dari Jakarta melalui bandara Tunggul Wulung Cilacap dengan menumpang pesawat ringan, sebuah moda transportasi yang membuat seorang tokoh nasional dari sebuah ormas keagamaan besar membatalkan kesediaannya untuk hadir sebagai pembicara di seminar kami dikarenakan takut jatuh.  Mengetahui hal demikian, Soetandyo dalam perjalan dari Bandara Tunggul Wulung, Cilacap menuju Purwokerto berseloroh, “Lho harusnya dia berangkat, kan dia lebih banyak doanya daripada saya”. Sehari setelah usai acara, ia dijadwalkan bertolak menuju Jogjakarta dan tiada angkutan yang fleksibel jam keberangkatannya dari kota kami yang kecil kecuali bis umum. Namun ketika ia telah siap meninggalkan Purwokerto, mobil salah seorang panitia yang sedianya akan mengantarkannya ke terminal bus tak kunjung datang menjemput ke hotel. Maka ia meminta saya untuk mengantarkannya ke terminal bis Purwokerto dengan membonceng sepeda motor Honda Grand milik saya. Maka jadilah kami berdua berboncengan menuju terminal bus (kini menjadi Taman Andang Pangrenan) yang berjarak sekira 3-4 kilometer dari hotel. Sesampainya di sana ia segera menemukan Bus Patas Raharja dan mengambil tempat duduk di bangku terdepan, tempat yang ia katakan sebagai paling enak. Akan menjadi teramat panjang untuk mendeskripsi seorang Soetandyo ke dalam satu karya berupa tulisan secara utuh baik keberadaannya sebagai pribadi maupun sebagai akademisi. Sebagaimana dikatakan co-promotor saya Laurens Bakker dari Universitas Amsterdam yang mengenalnya secara pribadi, kepergian Soetandyo memang menerbitkan duka, akan tetapi ia akan terus dikenang.  Mengenangnya, bagi saya, adalah dengan melanjutkan tradisi intelektual yang telah dirintisnya dan meneladani sikapnya sebagai ilmuwan yang egaliter, terbuka dan sederhana.  Meneladani seorang Soetandyo adalah meneladani figur yang mengimplementasi falsafah padi dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana tertuang dalam puisi yang pernah dituliskannya sendiri yang  dimuat di majalah Kunang-Kunang di bawah ini. Tumbuh  Subur di Sawah, Menguning Warna Indah Bergoyang-goyang Selalu Ditiup Angin Lalu Meskipun Gunanya Banyak, Tetapi Padi Tak Pernah Congkak Makin Banyak Berbuah, Merunduk Makin Rendah Manunggal K. Wardaya, Dosen Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman, PhD onderzoeker pada Faculteit der Rechtsgeleerdheid Radboud Universiteit Nijmegen, The Netherlands