Naskah Asli dari Artikel dimuat dalam kolom WACANA Suara Merdeka, 24 November 2015

20151124035601Berita itu saya ketahui tengah malam waktu Belanda 13 November 2015 melalui internet; penembakan brutal di Paris. Mengejutkan, mengagetkan. Lebih dari seratus manusia terbunuh. Pagi harinya, berita itu menjadi headline berbagai harian di Belanda. Koran Volkskrant misalnya, menulis besar-besar pada headline-nya; Schietpartij Parijs (Penembakan Paris), yang disambung dengan liputan komprehensif mengenai jumlah korban.  Semua media berita besar dunia tak ada yang lewat memberitakannya. Tak heran, serangan ini begitu dramatik, begitu banyak korban jatuh terbunuh, dan itu terjadi di salah satu pusat peradaban terpenting Eropa.

Dalam cuitan akun Twitter @BBCBreaking 14 November disebutkan ada 129 orang tewas, 352 terluka dan 99 lainnya dalam keadaan kritis. Aksi teror terjadi di setidaknya tiga titik berbeda; bom bunuh diri di luar stadion sepakbola Stade de France manakala tengah berlangsung pertandingan sepakbola persahabatan antara Perancis dan Jerman. Dua lainnya di gedung konser Bataclan dan sebuah tempat makan Petit Cambodge, dua tempat dimana korban begitu banyak berjatuhan. Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) mengaku bertanggungjawab atas teror bersenjata ini.  Walau memakan korban terbesar sepanjang sejarah Perancis, serangan terror ini bukan yang pertama terjadi di negeri wine itu.  Sebelumnya Januari lalu, kantor redaksi majalah Charlie Hebdo diserang sekawanan bersenjata dan menghabisi beberapa jurnalis secara sadistik. Situs berita Independent menyebut serangan ini adalah yang kedelapan setelah peristiwa teror di negeri itu Maret 2012 dimana tujuh orang terbunuh akibat penembakan yang dilakukan di Montauban dan Toulouse.

Paris, sebagaimana melekat dalam kenangan saya  ketika mengunjunginya lebih tiga tahun lalu adalah kota metropolitan besar. Ia adalah kota wisata yang begitu ramai dan riuh. Kota ini adalah obsesi pelancong seluruh dunia, dengan menara Eiffel sebagai magnet wisata utamanya. Manakala kegembiraan akhir pekan berganti suasana teror,  terbayang mereka yang tengah berada di kota itu untuk bersenang-senang menjadi panik, cemas karena dihantui rasa tak aman dalam cuaca di bulan November seperti sekarang dimana suhu telah mulai berada di bawah sepuluh derajat. Dalam keadaan normal saja, Paris begitu membingungkan bagi orang asing. Nyaris semua petunjuk dalam bahasa Perancis, dan tak banyak orang yang mau bercakap dalam bahasa Inggris. Berada dalam situasi kacau di Paris tentulah amat tak mengenakkan. Beberapa penerbangan tujuan Paris dialihkan ke Schiphol Amsterdam karena adanya ancaman. Disneyland Paris, Menara Eiffel dan lain-lain tempat tujuan wisata ditutup. Bagaimana mereka yang hendak berwisata ke Paris dan bahkan tengah berada dalam perjalanan menuju kota itu manakala peristiwa terjadi? Inilah dampak aksi terror yang begitu luas.

Saya tak pernah mengalami kejadian terorisme sebagaimana di Paris dalam bentuk apapun dalam hidup. Akan tetapi secara kebetulan, ketika teror pada 2012 di Perancis sebagaimana ditulis di atas terjadi, saya tengah berada di negeri itu. Dibandingkan dengan jumlah korban kala itu, skala teror di Paris kali ini sudah pasti jauh lebih besar. Akan tetapi, saya ingat benar, suasana negeri Perancis pada hari-hari terjadinya teror itu begitu mencekam, dan saya adalah salah satu yang turut dihinggapi rasa tak tenang itu. Televisi tak berhenti menyiarkan perburuan pelaku terror tersebut. Walau berada jauh dari lokasi kejadian ada rasa khawatir menyergap; siapa tahu sang teroris melarikan diri dan bersembunyi di sekitaran tempat saya tengah berada. Mungkin kekhawatiran yang berlebihan, namun rasa itu mungkin muncul sebagai akibat terpengaruh aneka pemberitaan mengenai perburuan teroris yang pernah saya saksikan di tanah air. Perburuan tersangka teroris Noordin M Top dan Dr Azahari di Batu Malang pada 2005 misalnya, berakhir dengan begitu dramatis dengan cara meledakkan diri manakala terkepung di sebuah rumah di kawasan padat penduduk. Juga penyergapan tak jauh dari terminal bus Wonosobo setahun kemudian di 2006 dimana dua tersangka tewas oleh peluru aparat. Belum lagi penyergapan teroris di Kedu, Temanggung pada 2009.  Kesemua adegan dramatis pengepungan rumah dan baku tembak menimbulkan bayangan tersendiri, yang menjadikan rasa takut hal itu juga akan terjadi.

Kembali kepada apa yang terjadi di Paris, dunia bereaksi keras terhadap pelaku teror. Di media sosial, simpati pada para korban ditunjukkan dengan hashtag #PrayforParis dan foto profil akun Facebook dengan bendera Perancis. Walau ISIS mengaku bertanggungjawab, orang tetap kritis menilai bahwa apa yang dilakukan bukanlah bagian dari agama karena terorisme tak memiliki agama apapun.  Namun lepas dari apapun akar permasalahannya, apa yang terjadi di Paris sebenarnyalah juga berlangsung tiap harinya di banyak belahan  dunia namun publik telanjur menganggap biasa. Paris memang bukan Gaza. Ia kota wisata dan sama sekali  bukan daerah konflik, dan  mungkin karena hal itu ditambah lagi ia berada di Eropa Barat, apa yang terjadi di Paris menjadi terasa lain, menjadi istimewa. Angelina Jolie dalam halaman Facebook-nya secara halus menyampaikan kritik, bahwa ia mendoakan Paris, akan tetapi juga mendoakan Lebanon yang pada hari kemarin sebelumnya juga dirundung duka karena 44 orang tewas di Beirut akibat bom yang juga diledakkan oleh ISIS.  Jolie benar. Kita berduka untuk Paris, dan menginginkan hal itu tak pernah terjadi di manapun di belahan dunia yang kita tinggali bersama. Simpati dan empati seharusnyalah tak diistimewakan hanya terhadap umat manusia tertentu, melainkan kepada sesiapapun yang memiliki kodrat sebagai manusia tatkala mengalami pengingkaran atas hak dan martabatnya sebagai manusia.