Makalah disampaikan pada Seminar Nasional dengan tema ‘Patriotisme Pemuda Masa Kini’ yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) pada 10 November 2016 di Purwokerto.

Download MS-Word di sini

Pada waktu muda mudi yang lain menemukan kekasihnya satu sama lain, aku mendekam dengan Das Capital (Soekarno, Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia, Presiden Republik Indonesia Ke-1)

Saya jadi aktivis itu terpaksa. Jika saat itu Indonesia sudah demokratis dan setara, saya lebih memilih jadi dosen menikmati buku-buku di Menara gading. (Budiman Sudjatmiko, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, mantan tahanan politik Orde Baru)

 

  1. Pendahuluan

Kaum muda adalah suatu golongan dalam masyarakat yang selalu memainkan peran penting dalam perubahan sosial. Tak terkecuali di Indonesia, berbagai peristiwa politik besar yang terjadi di negeri ini bahkan sebelum kemerdekaan selalu melibatkan peran kaum muda dan pelajar.[1] Para pemuda tampil mempertanyakan kemapanan, mendobrak struktur sosial yang mengekang dan membelenggu diri dan masyarakatnya. Perintis Pers Nasional Tirto Adhi Soerjo (1880-1918), merintis karir di dunia kewartawanan di usia belasan dan mendirikan Medan Prijaji, penerbitan pers pribumi yang kritis terhadap kekuasaan kolonial. Pada tahun 1925, para pemuda pelajar di Negeri Belanda mencetuskan Manifesto Politik yang terang mencitakan terwujudnya suatu republik bernama Indonesia.[2] Seorang guru muda lulusan Haarlem bernama Tan Malaka (1897-1948) bergerak menggalang solidaritas internasional guna membebaskan Hindia dari imperialisme Belanda. Seorang remaja bernama Soekarno bergabung dalam Tri Koro Dharmo di usia belia dan kemudian menuliskan Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme sebuah tulisan yang menjadi salah satu blueprint negara Indonesia. Sumpah Pemuda pada 1928 dicetuskan kaum muda berbagai suku di tanah air, menegaskan tekad para pemuda untuk bersatu dalam wadah kebangsaan Indonesia di saat kekuasaan kolonial begitu hegemonik. Manakala kaum tua dilanda kebimbangan paska menyerahnya Jepang pada sekutu, para pemuda berhasil memaksa elit pergerakan nasional untuk mendeklarasikan kemerdekaan,  suatu epos yang dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok. Reformasi yang memaksa Soeharto berhenti dari kepresidenan (dan membuahkan antaranya perubahan konstitusi) pula merupakan hasil keringat, darah dan air mata kaum muda yang menginginkan kehidupan bernegara yang demokratis.

Jalur perjuangan yang dipilih para pemuda dalam mewujudkan keyakinan dan cita-citanya bukannya tanpa risiko dan pengorbanan, terlebih jika mengingat apa yang mereka hadapi adalah bangunan kekuasaan yang seakan mustahil diruntuhkan. Pada 1928 Hatta diadili di muka pengadilan di Den Haag karena tuduhan memprovokasi perlawanan bersenjata di Hindia Belanda.[3] Soekarno bersama Gatot Mangkupraja, Maskun, dan Supriadinata dijebloskan ke penjara Banceuy dengan dakwaan hendak menggulingkan kekuasaan pemerintah kolonial. Buku Patjar Merah Indonesia karya Matu Mona mengisahkan betapa Tan Malaka selalu berada dalam kejaran dinas rahasia asing karena upayanya menentang imperialisme. Di era Orde Baru, pemuda dan mahasiswa ditangkapi dan dijebloskan ke penjara karena menolak tunduk pada rejim.[4] Terhadap para pemuda maupun mahasiswa dikenakan antara lain pasal subversi warisan era kolonial yang dipertahankan guna mengamankan kekuasaannya dari kritik dan oposisi.  Sepanjang revolusi fisik dari 1945 hingga 1949,  tak terhitung pemuda  gugur sebagai pahlawan tak dikenal tatkala bertempur melawan pasukan sekutu  mempertahankan kemerdekaan. Mereka mengorbankan jiwa untuk pertiwi Indonesia dengan bayaran teramat mahal; nyawa mereka sendiri. Mereka semua  para pemuda itu stigma negative sebagai pemberontak, penghasut, dan bahkan ekstrimis.

  1. Permasalahan

Tulisan ini membincangkan  semangat cinta tanah air (patriotism) di kalangan pemuda di tengah berbagai persoalan social politik baik di arasnya yang local maupun global. Menjadi inti tulisan ini adalah bagaimana patriotisme sebagaimana pernah ditunjukkan oleh para pendahulu bangsa dapat mengilhami pemuda masa kini untuk berbuat sesuatu untuk bangsa dan negaranya. Sekilas ringkas kisah perjuangan dan sepak terjang angkatan muda dan pelajar berbagai masa dipaparkan guna  mengantarkan pada pertanyaan besar; bagaimana jiwa dan semangat pengabdian kepada bangsa sebagaimana pernah ditunjukkan para pendahulu dapat dalam konteksnya yang kekinian. Tulisan ini pada akhirnya akan ditutup dengan kesimpulan mengenai kekuatan dan kesempatan yang dimiliki oleh generasi muda masa kini sekaligus tantangan yang dihadapi dalam menjalani perannya  sebagai manusia warga negara.

  1. Pembahasan
    • Pemuda

Sebelum masuk lebih dalam ke hal yang diperbincangkan, perlulah kiranya mengetahui mengenai apa yang dimaksud dengan ‘pemuda’ itu. Wikipedia menyebutkan pemuda ‘youth’ sebagai “the time of life when one is young, but often means the time between childhood and adulthood (maturity).  Sementara itu,  United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) mendefinisi pemuda (youth) sebagai “…a period of transition from the dependence of childhood to adulthood’s independence and awareness of our interdependence of members of a community.”[5] Dinyatakan oleh UNESCO bahwa definisi pemuda di atas memang kategori yang lebih cair (fluid) daripada mengkategorikan pemuda ke dalam kelompok usia tertentu. Namun begitu, diakui bahwa usia memang cara yang termudah untuk mengkategori kelompok ini. Oleh karenanya, UNESCO pula menyatakan ‘youth’ sebagai “a person between the age where he/she may leave compulsory education, and the age at which he/she finds his/her first employment.” Sementara itu, untuk keperluan statistik,  Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)  mendefinisikan ‘youth’ sebagai kelompok usia antara 15 hingga 24 tahun. Definisi ‘youth’ dalam kategorisasi usia di atas digunakan oleh Sekretaris Jenderal PBB sejak tahun 1981 sebagaimana tertuang dalam laporan pada Majelis Umum PBB tentang International Youth Year (A/36/215, para.8 lampiran) dan dikuatkan dalam laporan berikutnya (A/40/256, para. 19 lampiran).

Berbagai definisi pemuda dalam paragraph  di atas mungkin tak selalu memuaskan atau mengundang perdebatan.[6] Namun demikian, berbagai batasan di atas setidaknya dapat digunakan untuk memberi gambaran secara kurang lebihnya mengenai apa yang dimaksud dengan ‘pemuda’ yang menjadi fokus tulisan ini. Mengacu pada berbagai batasan yang diberikan di atas, bolehlah disimpulkan bahwa  pemuda adalah mereka yang tak lagi terbilang sebagai kanak namun belum memasuki fase dewasa. Menggunakan usia pendidikan sebagai kriteria, maka pemuda adalah mereka yang telah meninggalkan masa pendidikan dasar hingga usia ketika mendapatkan pekerjaannya yang pertama. Dalam konteks Indonesia dimana pendidikan dasar wajib adalah sembilan tahun maka dapat disimpulkan bahwa pemuda adalah mereka yang telah menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dengan kata lain, pemuda adalah mereka yang mereka yang berada di kategori usia bangku Sekolah Menengah Umum (SMU) maupun kejuruan (SMK) dan lain-lain yang sederajat serta bangku pendidikan tinggi. Mahasiswa, oleh karenanya pula terbilang sebagai sebagai bagian dari kaum muda.

  • Patriotisme Pemuda: Panggilan Jaman

Pergerakan pemuda yang terjadi di masa pra kemerdekaan dilatarbelakangi oleh keprihatinan sebagai warga bangsa menyaksikan penderitaan masyarakat sebagai akibat dari penjajahan. Para pemuda meenginsyafi bahwa system politik kolonial yang menghisap dan menindas itulah yang menjadi sumber petaka; perampasan sumber daya alam serta pengingkaran harkat dan martabat sebagai manusia. Para pemuda melihat penghisapan bangsa asing tersebut sebagai suatu ketidakadilan yang tak boleh terus berlanjut. Perjuangan membebaskan bangsa dan membentuk negara dan  berpemerintahan sendiri ditempuh sebagai pilihan sadar karena kecintaan pada tanah air lebih dari kecintaan pada hal lain. Dikatakan demikian karena sebenarnyalah dengan bekal pendidikan dan pengetahuan yang dimiliki, tak sukar bagi mereka untuk menikmati kehidupan yang mapan. Namun demikian para pemuda lebih memilih mendarmabaktikan ilmu dan pengetahuan yang mereka miliki untuk masyarakatnya.

Semangat dan kerelaan berkoban demi tanah air sebagaimana ditunjukkan oleh para pemuda perintis kemerdekaan diwarisi oleh kaum muda di masa Orde Baru.  Kaum muda menyaksikan berbagai praktik kehidupan bernegara amat jauh dari maksud didirikannya pemerintah Indonesia sebagaimana dicitakan oleh Pembukaan Undang Undang Dasar 1945. Konstitusi tertulis UUD 1945 yang sebenarnyalah merupakan konstitusi darurat disakralkan karena menguntungkan kekuasaan. Dalam hal ini, para pemuda menyadari betapa kehidupan bernegara yang tak berlandaskan pada paham supremasi hukum dan konstitusi  mengakibatkan terjadinya korupsi kolusi dan nepotisme (KKN) dan bahkan pelanggaran HAM berat. Menolak untuk hidup dalam atmosfir politik yang menindas, kaum muda menceburkan diri ke dalam arena perjuangan politik; memberhentikan penguasa yang tiranik yang memungkinkan ditatanya kehidupan bernegara yang lebih demokratis.  Bangunan kekuasaan Orde Baru terus digempur  oleh estafet aktivisme pemuda-mahasiswa  yang  pada akhirnya berbuah Reformasi 1998. Jika bangsa Indonesia kini telah memiliki konstitusi yang lebih demokratis yang membatasi kekuasaan penyelenggara negara, maka hal itu tak lain hasil dari perjuangan pemuda.

  • Pemuda 2016: Apa Yang Dapat/Telah Dilakukan?

Aneka persoalan politik dan kemasyarakatan sebagaimana secara ringkas didiskusikan di atas sudah barang tentu bukan lagi persoalan yang dihadapi oleh mereka para pemuda di masa sekarang.  Kaum muda kini tak sedang berhadapan dengan pemimpin yang diktatorial yang menjalankan kekuasannya secara tak terbatas apalagi kekuasaan asing yang menjajah. Atmosfir politik di masa kini jauh berbeda dengan di masa Orde Baru, maupun periode sebelumnya di bawah kepemimpinan Demokrasi Terpimpin. Walaupun masih terdapat kekurangan disana sini,  kehidupan bernegara  di masa kini relatif jauh lebih demokratis dengan aneka pranata demokrasi yang tersedia guna mewujudkan prinsiip supremasi hukum dan kedaulatan rakyat. Kalaupun ada penyimpangan kuasa, korupsi kekuasaan dan lain-lain penyimpangan hukum, telah tersedia mekanisme penyelesaian menurut hukum dan konstitusi.  Menjadi pertanyaan kemudian adalah apakah berarti tak ada lagi yang bisa dikerjakan oleh pemuda untuk masyarakatnya? Benarkah perjuangan pemuda telah selesai and  kini saatnya untuk bersenang-senang?

Tulisan ini meyakini bahwa masih banyak persoalan kebangsaan yang teramat mendesak untuk diselesaikan. Dewasa ini kita menyaksikan betapa ikatan kebangsaan kita semakin mengendur dengan berbagai tindak kekerasan dan intioleransi. Isu SARA begitu mudah membakar, membuat masyarakat terbelah dalam perkubuan yang seakan tak terdamaikan. Elit politik berlomba merebut simpati dan dukungan politik dengan segala cara.  Sektarianisme dan eksklusifisme berdasarkan suku dan agama mengemuka yang membuat bangsa semakin jauh dari cita persatuan Indonesia yang berdasar Bhinneka Tunggal Ika. Sementara itu negara kerapkali tak hadir dalam memenuhi hak dan kebebasan dasar warga. Kelompok minoritas mendapat kekerasan, penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu tak kunjung diselesaikan membuat bangsa terus berada dalam situasi saling curiga. Pertanyaannya adalah; sudahkah pemuda mengambil bagian dalam penyelesaian berbagai persoalan kebangsaan di atas sebagai wujud rasa kasih dan cintanya kepada tanah air? Apa yang dapat atau telah dilakukan oleh pemuda untuk menyelesaikan aneka persoalan kebangsaan tersebut? Jawaban atas peranyaan di atas sebenarnyalah dan bagaimanapun terpulang kepada kaum muda sendiri. Apapun yang tengah atau akan dilakukan oleh kaum muda, kontribusi dan sumbangsih tersebut mestilah dilakukan dalam jalurnya yang konstitusional sebagai bagian dari cara hidup berdemokrasi yang menjadi pilihan bangsa Indonesia.

Kaum muda masa kini adalah mereka yang hidup dan diuntungkan dengan kemajuan dan perkembangan teknologi informasi yang luar biasa. Kaum muda kini hidup di masa dimana informasi bisa diperoleh dari mana saja, diproduksi dan disebarluaskan dengan cepat. Pengetahuan menjadi hal yang secara virtual berada di mana-mana senyampang terhubung di dunia maya. Bagi pemuda yang tengah mencari ilmu (baca: pelajar, mahasiswa) hal ini sudah barang tentu teramat menguntungkan dan memudahkan. Menemukan berbagai sumber ilmu pengetahuan maupun aneka pemikiran dari segala penjuru arah bukan sesuatu yang sulit dan heroik sebagaimana pada masa lalu yang harus dilakukan secara fisik. Pertukaran pikiran bisa dilakukan kaum dimana saja, tanpa harus berjumpa fisik. Aneka pemikiran/gagasan dapat dengan segera diviralkan tanpa harus terhalang kendala-kendala konvensional seperti jarak, waktu dan biaya. Kemajuan teknologi sebagaimana diungkap diatas hanyalah salah satu aspek saja yang membawa pada asumsi bahwa pemuda di masa kini semestinyalah dapat menunjukkan performa yang berlipat kali lebih baik dibandingkan pemuda di masa lalu dalam menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk bangsanya.

  1. Penutup

Pertanyaan besar berkenaan dengan peran kemasyarakatan yang dapat dilakukan pemuda dalam menjawab dan menyelesaikan persoalan kebangsaan yang melingkupi bangsa hanya bisa dijawab oleh para pemuda sendiri. Ada harapan besar bahwa dengan segala kemajuan zaman yang dinikmatinya, para pemuda dapat berperan jauh lebih aktif  dalam kehidupan berkebangsaan dibandingkan dengan para pemuda yang hidup di masa sebelumnya. Jika kaum muda mampu  mengidentifikasi aneka persoalan kebangsaan sekaligus mampu memanfaatkan segala potensi yang ada untuk bangsa, maka akan menjadi tidak berlebihan untuk percaya bahwa aneka persoalan kebangsaan yang kini tengah melanda, sooner or later,  dapat terselesaikan.

 

Referensi

Kartasasmita G and Stern JJ, Reinventing Indonesia (World Scientific Publishing 2015)

Kartodirjo S, ‘From Ethno-Nationalism to the “Indonesia Merdeka” Movement 1908-1928’ in Sri Kuhnt Saptodewo, Volker Grabowsky and Martin Grossheim (eds), Nationalism and Cultural Revival in Southeast Asia: Perspectives from the Center of the Region (Harrasowitz Verlag 1997)

Ricklefs MC, A History of Modern Indonesia Since C. 1200 (3rd edn, Stanford University Press 2001)

UNESCO, ‘Learning To Live Together: What Do We Mean by “Youth”?’ <http://www.unesco.org/new/en/social-and-human-sciences/themes/youth/youth-definition/&gt; accessed 7 November 2016

[1] Ginandjar Kartasasmita and Joseph J Stern, Reinventing Indonesia (World Scientific Publishing 2015) 76.

[2] Manifesto Politik terdiri dari tiga hal . Pertama, Bangsa Indonesia harus diperintah oleh pemimpin mereka sendiri yang dipilih dari antara mereka. Kedua, agar dapat menentukan nasibnya sendiri, rakyat harus mengandalkan kekuatan dan kemampuan sendiri. Ketiga, agar perjuangan berhasil maka etnis yang beragam di Indonesia harus bersatu, karena jika tidak maka keseluruhan proses akan gagal.   Sebelum pernyataan politik nan penting ini, para pelajar di Negeri Belanda dengan sadar mengganti nama perkumpulan mereka yang sebelumnya adalah Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia) menjadi Indonesische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia). Dalam politik bahasa kolonial, “Indische” memiliki konotasinya sebagai koloni, jajahan. Digunakannya istilah “Indonesia” berkonotasi suatu entitas bangsa/negara yang merdeka. Lihat Sartono Kartodirjo, ‘From Ethno-Nationalism to the “Indonesia Merdeka” Movement 1908-1928’ in Sri Kuhnt Saptodewo, Volker Grabowsky and Martin Grossheim (eds), Nationalism and Cultural Revival in Southeast Asia: Perspectives from the Center of the Region (Harrasowitz Verlag 1997) 78.

[3] MC Ricklefs, A History of Modern Indonesia Since C. 1200 (3rd edn, Stanford University Press 2001) 220.

[4] Tokoh mahasiswa/mahasiswa seperti Fadjroel Rahman dan Budiman Sudjatmiko misalnya, ditangkap dan dijebloskan ke penjara karena menentang kepemimpinan Presiden Soeharto. Di Yogyakarta, Bonar Tigor Naipospos, Bambang Subono dan Bambang Isti Nugroho (ketiganya pegiat Palagan Study Club) ditangkap dan kemudian dipenjarakan hanya karena memiliki dan mengedarkan literatur/bacaan yang dianggap menghina rejim Orde Baru/terlarang seperti buku-buku karangan Pramoedya Ananta Toer.

[5] UNESCO, ‘Learning To Live Together: What Do We Mean by “Youth”?’ <http://www.unesco.org/new/en/social-and-human-sciences/themes/youth/youth-definition/&gt; accessed 7 November 2016.

[6] Berbagai organisasi kepemudaan di Indonesia, setidaknya manakala tulisan ini dibuat dalam kenyataannya banyak beranggotakan dan dipimpin mereka yang secara usia jauh dari definisi pemuda sebagaimana diberikan oleh UNESCO maupun PBB.