Category: Refleksi


188212_10150261399903823_4224102_nSuatu hari di minggu ke-empat bulan Juli  2011 saya berjumpa dengannya dalam event Seminar Internasional yang diselenggarakan oleh Yayasan Percik, Salatiga. Dalam forum yang rutin digelar setiap tahunnya itu saya hadir sebagai salah satu pemakalah,  sedangkan ia, kalau tak salah ingat, berperan sebagai salah satu anggota steering committee. Bertempat di rungan semi terbuka dengan hawa Salatiga nan sejuk, kegiatan seminar diikutinya secara penuh sedari pagi hingga petang. Ia terlihat begitu involved, duduk membaur bersama para peserta sembari menyimak  rangkaian presentasi sambil sesekali mengerjakan hal lain; multitasking dengan mengetik di netbook kecil miliknya.  Sosoknya yang sepuh di tengah forum yang hampir kesemuanya adalah  generasi yang terpaut jauh di bawahnya itu membuatnya menjadi kontras tersendiri. Namun begitu, pembawaannya yang enerjik serta jauh dari keangkuhan personal maupun intelektual membuat segala jarak dan perbedaan yang terbentang seakan tak pernah ada. Sesekali atas permintaan moderator ia memberi komentar atas paparan yang disampaikan para peserta. Hari ke-dua seminar dimana saya dijadwalkan untuk menyampaikan makalah tak diikutinya hingga selesai. Di sela-sela makan siang  ia memberitahu saya bahwa sore hari ia sudah harus ada di Semarang guna menghadiri ujian disertasi. Walau tak dapat menghadiri sesi presentasi saya, ia mengatakan bahwa ia telah menyempatkan untuk membaca paper yang saya buat dan memberikan pujian atasnya. Continue reading

Advertisements

Menjadi pihak yang kalah, itulah yang dialami oleh team debat Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) yang diwakili oleh mahasiswa dari Fakultas Hukum UNSOED. Di hari kedua Lomba Debat Konstitusi Regional Jateng-DIY yang diselenggarakan oleh Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia di UNDIP, Semarang 2-5 Mei silam, team UNSOED harus menerima kenyataan: kalah di babak penyisihan, berganti status dari peserta menjadi penonton. Tentulah bukan team dari UNSOED saja yang mengalami hal sama. Dari empat group yang ada, setidaknya ada duabelas team yang harus mengalami hal sama: tersingkir di babak penyisihan. Empat team masuk ke babak semifinal (UGM, UKSW, UNDIP, dan UNS) yang pada akhirnya di hari akhir menghasilkan team UGM sebagai Juara Region Jateng dan DIY. Continue reading

Terimakasih ::::

Terimakasih saya ucapkan pada para mahasiswa, rekan, saudara, kolega yang telah menaruh perhatian pada ulang tahun saya 24 Maret 2011 ini. Ucapan secara langsung maupun  beratus ucapan via wall Facebook  dan pesan pendek yang saya upayakan untuk balas satu persatu, tentu saja menyita waktu dan tenaga. Namun begitu bagi saya tak menjadi mengapa, karena perhatian yang telah diberikan, pula doa panjang umur bagi saya priceless, tak ternilai. Terimaksih pula pada para mahasiswa kelas E yang telah menyanyikan Lagu Happy B Day untuk saya perkuliahan Hukum Pers sore 24 Maret ini (It was lovely), dan pula kepada para mahasiswa yang datang ke rumah saya tengah malam jelang pukul 00:00 24 Maret dinihari, membawa roti ulang tahun dan lilinnya, untuk saya. I won’t forget that moments. Thank you.

Semoga Tuhan Maha Kuasa membalas kebaikan anda semua, dan doa doa yang dipanjatkan untuk saya pula menjadi doa dan kebaikan untuk anda, kita semua.

Tabik,

MKW

Surat Pembaca Kompas

Di bawah ini adalah refleksi seorang pembaca KOMPAS dari Purworejo setelah membaca artikel saya bertajuk Kejahatan Sebagai Folklor.  Klik di sini untuk membaca surat pembaca tersebut. Adapun artikel Kejahatan Sebagai Folklor dapat dicari dengan mengetik di search engine yang ada di situs ini:

 

Retribusi Parkir di Purworejo

Saya mengapresiasi positif atas tulisan yang berjudul “Kejahatan sebagai Folklor” (oleh Manunggal K Wardaya, dosen Fakultas Hukum Unsoed Purwokerto) pada rubrik Forum, Kompas (Sabtu, 19 Juni 2010).

Salah satu kutipannya menyatakan, “Oleh karena itu, manakala kita dipungut uang retribusi parkir tanpa diberi karcis parkir oleh sang petugas, hal demikian tak dipandang dan disikapi sebagai permasalahan yang berarti. Tak pernah ada perbaikan terhadap sistem pemungutan retribusi parkir yang amat memberi celah korupsi petugas parkir yang pada akhirnya berperan terhadap penerimaan kas daerah.”

Hal itu juga terjadi di Purworejo. Dari sekian banyak area parkir, petugas parkir tidak pernah memberikan karcis. Sepertinya pengelola parkir memang tidak menyediakan karcis karena petugas tidak terlihat memegang karcis.

Anehnya, sepeda motor yang diparkir tidak boleh dikunci setir/setang dengan alasan biar mudah dipindah saat merapikan posisi sepeda motor. Tentu ini membuat pemilik tidak nyaman saat memarkir sepeda motornya, takut hilang. Yang biasa dikunci saja bisa hilang atau dicuri, apalagi yang tidak dikunci. Ditambah lagi, seorang petugas harus menangani area parkir yang cukup luas. Tentu pengawasan terhadap sepeda motor yang diparkir tidak akan terkontrol. Petugas hanya memungut uang retribusi parkir saja.

Andaikata sepeda motor yang diparkir hilang, akan menjadi tanggung jawab siapa? Kalau lapor ke kepolisian, dengan bukti apa kalau kita telah parkir di area tersebut, sedangkan karcis parkir tidak ada.

Kalau memang Pemerintah Kabupaten Purworejo ingin meningkatkan pendapatan daerah dari retribusi parkir, ada baiknya ditinjau lagi sistem dana manajemen parkirnya. Bukan sekadar menyerahkan masalah parkir kepada pihak ketiga dan tanpa pengawasan yang baik. ANDI’ HASLAN SAPUTRA RT 002/RW 001 Kelurahan Doplang, Purworejo

TEMPO dan Kemerdekaan Pers

Melalui sambungan telepon internasional, saya menerima wawancara Radio SBS Australia (6/7/10). Membincangkan kasus pelaporan TEMPO oleh Mabes Polri kepada Bareskrim Mabes Polri, SBS menanyakan pada saya (dan pula tokoh Pers Atmakusumah) beberapa hal terkait cover majalah yang diklaim menghina institusi Polri tersebut. Kepada saya, SBS menanyakan terutama dalam perspektif hukum dan konstitusionalisme, sedangkan pada Atmakusumah, pertanyaan-pertanyaan seputar jurnalistik kaitannya dengan kasus itu lebih mengemuka. Continue reading

Siapakah yang sebenarnya patut dipersalahkan terkait beredar luasnya video asusila amatir  yang diduga melibatkan Luna Maya, Cut Tari, dan Nasriel Irham alias Ariel, frontman band rock asal Bandung Peterpan? Saya mencoba menanyakan hal ini pada Theo van Kalleeven, sahabat saya dari Amersfoort, Belanda dalam kesempatan menjelajah hutan wisata Baturraden bersamanya, ditemani dua mahasiswa Angga Afriansyah dan Agus Triyantoro awal Juni 2010. Theo yang berasal dari negara dengan tradisi liberal itu menjawab, bahwa bercinta sekaligus merekam adegan percintaan seperti dilakukan para pesohor negeri ini bisa jadi terbilang immoral/dosa, namun bukanlah sesuatu yang harus dianggap salah dalam kacamata hukum. Menurutnya, privasi harus dihormati, dan untuk itu adalah sah-sah saja melakukan hal itu termasuk mendokumentasikannya selama untuk keperluan pribadi. Menurutnya, baik Ariel, Luna, maupun Cut Tari sama sekali tidak bersalah.  “Mereka hanya sedikit bodoh karena merekamnya,” sambungnya. Sepakat dengan Theo, kami bertiga saling mengiyakan bahwa ketiga artis tersebut, walau menikmati hak pribadi dengan berhubungan seks dan merekamnya, namun telah melakukan keteledoran (untuk tidak mengatakan kebodohan). Bukankah data digital amat rawan berpindah tangan dan dicuri? Continue reading

Malu Bertanya Sesat Menjawab

Beberapa hari yang lalu saya menuliskan seputar masih dihinggapinya rasa segan mahasiswa untuk mengungkapkan pendapat dalam diskusi di kelas. Rasa segan ini barangkali disebabkan berbagai hal: takut terlihat bodoh, takut dinilai tidak menguasai (baik di mata rekan mahasiswa maupun pengajar), dan berbagai hal psikologis  lainnya. Ketika saya melakukan  ‘upaya paksa’ dengan cara menunjuk, mahasiswa yang seperti ini tak jarang bisa berpendapat yang cukup bagus dan bahkan ‘out of the box’. Continue reading

Malu Berpendapat Sesat di Jalan

“Barangkali sampai di sini ada yang hendak bertanya?” demikian selalu saya tanyakan kepada mahasiswa ketika suatu bahasan dalam perkuliahan telah selesai saya berikan. Sebeluim mengakhiri kuliah atau sebelum melanjutkan ke bahasan selanjutnya, saya selalu berusaha untuk membuka ruang diskusi, tanya jawab, dan sharing ideas dengan mahasiswa. Tanya jawab ini tak saja berguna bagi mahasiswa untuk menambah pemahaman akan apa yang telah disampaikan, namun dalam banyak hal juga amat bermanfat bagi saya dan mahasiswa karena dari benak mahasiswa kerap muncul permasalahan-permasalahan yang sederhana namun aktual dan merupakan masalah hukum yang menarik untuk didiskusikan. Alternatively, ada kalanya saya sengaja melempar suatu permasalahan hukum untuk kemudian dipikirkan dan dipecahkan mahasiswa dan memberi kesempatan seluas-luasnya pada mahasiwa untuk mencoba memecahkan permasalahan. Continue reading

Tertangkapnya Sang Maling Helm

Berita itu sampai di pendengaran saya pagi ini dari mulut seorang karyawan kependidikan: seorang yang tersangka pencuri helm belum lama ini tertangkap basah manakala sedang beroperasi di kampus FH. Setelah dilakukan penjebakan oleh salah seorang karyawan, tersangka pelaku berhasil diketahui identitasnya ketika sedang beraksi mengambil barang yang bukan miliknya. Sempat berhasil melarikan diri, tersangka bisa tertangkap karena teriakan “maling” yang segera direspon oleh beberapa mahasiswa yang sore manakala kejadian itu berlangsung ada di seputaran kampus.  Konon, sang tersangka pencuri yang mendapatkan hujan bogem mentah itubukan orang baru namun biasa berada di seputaran kampus FH.

Tertangkapnya tersangka pencuri tentu melegakan. Bahwa ia kemudian menjadi sasaran kemarahan dan beberapa tinju mendarat di mukanya adalah sesuatu yang tak bisa dibenarkan dalam sudut pandang HAM, walau secara sosiologik-psikologik bisa dimengerti. Tindak pencurian helm adalah perbuatan yang merugikan, meresahkan sekaligus menjengkelkan. Di kalangan dosen dan karyawan sekalipun telah banyak yang menjadi korban. Seorang rekan dosen bahkan pernah kehilangan jas hujan yang digantungkan di sepeda motornya, yang kala itu diparkit di “kampus bawah” (Justitia 2).  Saya sendiri pernah menjadi korban pencurian helm yang saat itu tergantung di sepeda motor saya di parkiran belakang kampus FH. Situasi sepi parkiran rupanya mempermudah sang pencuri untuk mengambil helm saya yang belum berusia satu minggu. Saya tidak tahu, adakah si pelaku yang tertangkap ini sudah sekian lama beroperasi di seputaran FH UNSOED atau bahkan di lingkungan UNSOED atau sekedar sedang apes belaka. Bisa jadi ia pulalah dulu yang ngembat helm saya.

Dengan penindakan tegas dan diserahkannya tersangka pelaku kepada hukum, diharapkan efek jera akan muncul pada diri pelaku. Pun kepada pihak lain yang barangkali pernah, masih, dan akan beroperasi serupa di FH akan lebih berfikir serta mengurungkan niatnya. Proses pidana menjadi penakut pada pihak lain yang berkeinginan melakukan tindak serupa.  Pada gilirannya, kampus FH atau bahkan lingkungan UNSOED pada umumnya akan bisa bersih dari pencurian helm dan lain-lain kejahatan menyangkut properti.

31/05/10

Hadir sebagai mahasiswa penyelundup dalam kuliahnya menjadi salah satu hal yang paling mengasyikkan dalam kehidupan saya sebagai mahasiswa. Yang saya maksud sebagai mahasiswa penyelundup adalah bahwa saya tidak mengambil mata kuliahnya secara resmi di KRS (tidak seperti mata kuliah Psikologi Sosial yang memang saya tempuh di kampus FISIP, sebuah mata kuliah  yang belakangan diketahui diampu oleh seorang Doktor palsu!  ). Namun saya kira, seandainya beliau dan birokrasi FISIP UNSOED mengerti keberadaan saya dari Fakultas Hukum sekalipun, ia tak akan berkeberatan. Riswandha Imawan, Gurubesar FISIP UGM yang telah berpulang pada 4 Agustus 2006 ini memang sempat menjadi dosen luarbiasa FISIP UNSOED,. Kala itu, di era Orde Baru, tulisan-tulisannya banyak menghiasi halaman surat kabar. Pemikiran dan analisanya mengenai politik Indonesia jernih dari kacamata akademisi/peneliti, tanpa ada warna dan bau kepentingan yang membelakangi. Dengan kredibilitas dan integritas keilmuannya seperti itu, mendatangi kuliah seorang Riswandha Imawan adalah suatu kemewahan dan memiliki sensasi mendekati selebriti. Bagaimanapun bagi  kebanyakan mahasiswa seperti saya, pengalaman ngangsu kawruh, menimba ilmu  dari  seorang yang memiliki kapasitas dan kredibilitas yang tinggi tentu memiliki sensasi yang luarbiasa terlebih bagi mahasiswa sebuah universitas kecil seperti UNSOED.

Suatu siang, saya datang di perkuliahannya di sebuah ruangan di FISIP UNSOED. Mungkin sekitar tahun 1996 atau 1997.   Saya lupa apa bahasannya kala itu, namun dalam kuliahnya itu ia mendiskusikan kepada kami mahasiswa mengenai pidato Presiden Soeharto yang diucapkan sehari atau beberapa hari sebelumnya. Gaya bicara, cara penyampaiannya enak dan lucu, memancing tawa, membuat banyak pemikirannya mudah diserap oleh kepala.

Yang masih teringat di benak adalah bagaimana beliau di awal kuliah nampak agak gusar menyaksikan kursi di depan kelas cenderung kosong, sedangkan mahasiswa memadati kursi di bagian belakang. Ia meminta mahasiswa duduk di depan dan mengisi kursi yang kosong. Pada kami ia berkata “Inilah yang membuat masyarakat sipil Indonesia selalu kalah dari militer. Lihat militer, dimana-mana selalu duduk di depan. Kalau naik seorang militer  akan duduk di depan. Sedangkan orang-orang sipil seperti anda ini, memilih di belakang,” demikian kira-kira kritik Riswandha kepada kami. Pemilihan tempat duduk dengan status seorang warga negara yang saat itu dihegemoni dengan Dwi Fungsi ABRI terasa pas untuk menjelaskan mengapa masyarakat sipil seakan tak akan mampu menyaingi kepempimpinan militer yang dicita-citakan demi terwujudnya Indonesia yang demokratis.

Apa yang diucapkannya terasa kebenarannya. Kita memang kerapkali kurang atau bahkan tidak confident untuk berada di depan. Seolah berada di depan adalah keberadaan yang bisa mengancam atau membikin repot kita. Kelak, beberapa tahun setelah menjadi dosen, hal yang sama ternyata saya jumpai dalam perkuliahan dengan mahasiswa. Mahasiswa selalu berkecenderungan untuk duduk di belakang, yang pada banyak kasus kemudian memanfaatkan posisi strategis tersebut untuk ngobrol sendiri dan mengabaikan perkuliahan, dan sekedar mencari absen belaka. Duduk di depan sama saja ‘terancam’ untuk ditunjuk, sesuatu yang dirasakan tidak enak. Sampai kapankah kecenderungan seperti ini akan menghinggapi benak mahasiswa?