Dimuat Dalam FORUM KOMPAS Jawa Tengah/DIY, Selasa 24 Agustus 2010, hlm. D. Download edisi cetak

Manunggal K. Wardaya

Jangan coba-coba memakai helm kupluk di Purwokerto, pasti ditilang!’. Hal demikian kerap disampaikan warga Purwokerto kepada kawan, maupun sanak saudara dari daerah lain yang hendak berkunjung atau sekedar melintasi Purwokerto. Nasihat seperti itu bisa dimengerti, karena setidaknya dalam satu dasawarsa terakhir, penggunaan helm kupluk atau  helm yang‘tidak standar’ lainnya menjadi sesuatu yang punishable. Kendati definisi helm standar bisa jadi dapat diperdebatkan, akan tetapi di lapangan hampir-hampir tak ditemui pengendara sepedamotor yang hanya mengenakan helm kupluk, helm bathok ataupun helm proyek. Kalau di  wilayah hukum lain pengendara sepedamotor lebih bebas menggunakan helm kupluk, maka jangankan pengendara, di Purwokerto para pedagang helm tidak menjual helm kupluk yang tak menutup hingga ke wilayah telinga ini. Purwokerto meneguhkan diri sebagai daerah percontohan tertib lalu lintas, dimana masyarakat di daerah lain yang berkunjung di kota ini akan meniru perilaku hukum warganya dalam berlalulintas. Alih-alih merasa iri dah meri pada warga wilayah hukum lain yang masih bisa bebas berhelm kupluk, warga Purwokerto dan Banyumas seolah memberi suluhan dan nasihat pda warga lain agar memakai helm standar demi keselamatan pengendara itu sendiri. Continue reading

Advertisements