Versi unedited dari artikel yang dimuat di kolom WACANA Suara Merdeka, 19 September 2013. Versi online dapat dibaca di sini

Di Hari kebebasan Pers Dunia 3 Mei silam, kalangan jurnalis tanah air memeringati banyaknya jurnalis yang terampas hak hidupnya dalam melaksanakan tugas jurnalistiknya. Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) mencatat tak kurang dari 55 jurnalis menjadi korban kekerasan sepanjang 2011-2012. Masih misteriusnya kasus terbunuhnya Munir dan aneka perampasan hak hidup dalam pelanggaran HAM berat masa lalu lainnya menjadi catatan tersendiri yang memprihatinkan jelang akhir pemerintahan Presiden SBY. Tulisan ini oleh karenanya hendak membahas mengenai hak hidup sebagai hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun tersebut dan kontekstualitasnya dalam permasalahan kebangsaan dewasa ini. Tulisan ini dirasa relevan setelah Rakernas Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta  pidana mati bagi koruptor. Continue reading