Unidited version dari artikel yang dimuat dalam kolom WACANA Harian Suara Merdeka, 7 Juni 2011 Klik di sini untuk mendownload versi cetak.

Themis, dewi keadilan dalam mitologi Romawi dikenal sebagai simbol universal lembaga peradilan di seluruh dunia. Digambarkan membawa timbangan dengan mata tertutup dan sebilah pedang bermata dua nan tajam, hakim dan pula lembaga kehakiman dituntut untuk bertindak seperti sang dewi: memutus perkara yang dihadapkan padanya  dengan sebenar-benar dan seadil-adilnya tanpa memandang pihak-pihak yang berperkara. Hanya dengan ketidakberpihakanlah putusan hakim akan dihormati dan diterima, kendati apa yang diputuskannya bisa jadi tidak selalu memenuhi harapan para pihak yang bersengketa. Pengadilan yang imparsial akan menjadi lembaga pengakhir sengketa yang berwibawa, yang putusannya ditaati dan bahkan menjadi hukum baru (yurisprudensi) yang akan diikuti baik oleh hakim-hakim lain maupun masyarakat manakala menghadapi permasalahan hukum yang sama. Continue reading