Original version dari artikel yang dimuat dalam kolom Wacana Harian SUARA MERDEKA, Senin 2 Mei 2011. Versi cetak dalam format PDF dapat diakses di sini

Beberapa pekan terakhir publik dihentakkan oleh sejumlah kasus pencucian otak terkait dengan Negara Islam Indonesia (NII). Media  memberitakan menghilangnya sejumlah orang (terutama mahasiswa) yang  diduga terkait sebuah gerakan  yang bercita-cita menjadikan Indonesia sebagai negara agama.  Tak saja mengalami kerugian materiil berupa sejumlah uang yang konon diklaim untuk mendanai negara yang tengah diperjuangkan, para korban pencucian otak itu umumnya ditemukan atau kembali dalam kondisi kejiwaan yang terganggu. Kasus cuci otak sebetulnya bukan hal yang baru, mengingat pada dekade 90-an, fenomena NII dan apapun gerakan berbandrol negara agama di Indonesia dengan rekrutmen terutama kaum terpelajar/mahasiswa telah marak terjadi walau tanpa liputan gencar media seperti masa sekarang. Munculnya kembali  aspirasi negara agama di era reformasi menjadi pertanyaan konstiitusional tersendiri terhadap setiap warga maupun terutama sekali para pejabat penyelenggara negara.  Tulisan ini secara ringkas menelaah fenomena NII dalam sudut pandang hukum dan sejarah ketatanegaraan. Continue reading