Dimuat dalam Jurnal AMNA GAPPA Fakultas Hukum Universitas Hassanuddin, Makassar, Vol. 18 No.1 Maret 2010 

ABSTRAK

Persoalan pekerja anak adalah persoalan yang menghinggapi banyak Negara terutama Negara-negara Dunia Ketiga. Anak terpaksa atau bahkan dipaksa bekerja demi membantu atau bahkan sebagai pilar utama ekonomi keluarga. Kebijakan untuk menghapuskan pekerja anak sama sekali dari tempat kerja dimaksudkan untuk member perlindungan pada anak dari kondisi yang membahayakan mental maupun fisiknya, tak terkecuali untuk memungkinkan anak mendapatkan haknya atas edukasi. Namun demikian kebijakan yang bermaksud baik tanpa memerhatikan kondisi di lapangan justeru dapat mendatangkan permasalahan yang lebih serius bagi anak. Tulisan ini mengajukan argument bahwa penghapusan pekerja anak hendaknya didahului dengan serangkaian kebijakan yang matang. Tanpanya, tulisan ini yakin, anak akan terbawa kepada keadaan yang justeru lebih buruk.

Kata Kunci: pekerja anak, hak asasi manusia

  

A.   Introduction

Indonesia is a country which is famously known of its huge number of child labor (ILO 2009). A report published by national labor survey found that some 2, 749, 353 children of the country aged 10-15 years in 33 province are working. Most of them are employed in very poor condition atmosphere. An estimation made by UNICEF for example, says that around 40.000-70.000 children are trafficked or being engaged in sex worker. Of that population, around 30 percent are children under the age of 18 (UNICEF 2009). Continue reading