Dimuat pada kolom Forum KOMPAS JATENG, 22 Desember 2007

Menjelang beberapa pilkada yang akan digelar di tingkat kabupaten/kota maupun propinsi pada 2008, sejumlah calon kepala daerah di Jawa Tengah semakin gencar melakukan sosialisasi tentang profil, visi misi, dan programnya. Berbagai isu strategis yang dianggap mampu mendongkrak popularitas ditonjolkan mulai dari sentimen putra asli daerah, prestasi sebagai pejabat dalam rezim yang sedang berkuasa (incumbent), program pengentasan kemiskinan, hingga keunggulan peringkat dalam jajak pendapat. Dalam melakukan pendekatan terhadap publik, hampir semua calon memanfaatkan media lokal, baik cetak maupun elektronik. Bisa dimengerti, media mampu menjangkau khalayak sasaran yang lebih luas dibandingkan berbagai cara konvensional seperti rapat umum, pemasangan spanduk, baliho, atau penempelan stiker. Perkembangan teknologi informasi dan multimedia memungkinkan sosialisasi calon kepala daerah disajikan dalam format yang lebih memikat dan tak begitu dirasakan publik sebagai kampanye. Kita menyaksikan berbagai sosialisasi calon kepala daerah dikemas tidak saja dalam bentuk iklan display, namun juga berita advertorial dan dialog interaktif yang melibatkan sejumlah stasiun radio dan televisi swasta. Di Banyumas, seorang calon bupati bahkan menjadi sponsor tunggal kontes adu bakat muda-mudi yang ditayangkan oleh televisi lokal.

Continue reading

Advertisements