188212_10150261399903823_4224102_nSuatu hari di minggu ke-empat bulan Juli  2011 saya berjumpa dengannya dalam event Seminar Internasional yang diselenggarakan oleh Yayasan Percik, Salatiga. Dalam forum yang rutin digelar setiap tahunnya itu saya hadir sebagai salah satu pemakalah,  sedangkan ia, kalau tak salah ingat, berperan sebagai salah satu anggota steering committee. Bertempat di rungan semi terbuka dengan hawa Salatiga nan sejuk, kegiatan seminar diikutinya secara penuh sedari pagi hingga petang. Ia terlihat begitu involved, duduk membaur bersama para peserta sembari menyimak  rangkaian presentasi sambil sesekali mengerjakan hal lain; multitasking dengan mengetik di netbook kecil miliknya.  Sosoknya yang sepuh di tengah forum yang hampir kesemuanya adalah  generasi yang terpaut jauh di bawahnya itu membuatnya menjadi kontras tersendiri. Namun begitu, pembawaannya yang enerjik serta jauh dari keangkuhan personal maupun intelektual membuat segala jarak dan perbedaan yang terbentang seakan tak pernah ada. Sesekali atas permintaan moderator ia memberi komentar atas paparan yang disampaikan para peserta. Hari ke-dua seminar dimana saya dijadwalkan untuk menyampaikan makalah tak diikutinya hingga selesai. Di sela-sela makan siang  ia memberitahu saya bahwa sore hari ia sudah harus ada di Semarang guna menghadiri ujian disertasi. Walau tak dapat menghadiri sesi presentasi saya, ia mengatakan bahwa ia telah menyempatkan untuk membaca paper yang saya buat dan memberikan pujian atasnya. Continue reading

Advertisements