Tag Archive: UU Pers


Artikel dimuat dalam Jurnal Dinamika Hukum,  2011

Oleh :

Manunggal K. Wardaya & Ahmad Komari

manunggal.wardaya@gmail.com & ahmad.komari25@yahoo.com

download PDF di sini

Abstrak

Perkembangan di dalam bidang teknologi informasi tak pelak menimbulkan berbagai perubahan dalam segenap aspek kehidupan umat manusia termasuk dalam media. Berbagai definisi masa lalu mengalami perubahan signifikan dan tak lagi bisa dipertahankan. Keterlibatan audiens dalam media berita (news media) melahirkan fenomena baru dalam jurnalistik, apa yang terbilang sebagai jurnalisme warga (citizen journalism). Undang-undang Pers sebagai regulasi utama bidang media berita dengan sendirinya tercabar relevansinya dalam menyesuaikan diri dengan perubahan jaman. Artikel ini meyakini bahwa perubahan Undang-undang Pers mutlak dilakukan agar lebih responsif dengan perubahan yang terus terjadi dalam masyarakat.

Kata kunci: teknologi informasi, media, pers, jurnalisme warga

Abstract

The development in information technology influences many aspects of human life including news media. Various definitions in media have encountered significant changes and cannot anymore be used. Press Law as a main regulation of news media Indonesia is no exception. Its relevancy is now being questioned and even challenged when it fails to adopt with the changes in society. This article believes that the amendment of Press Law should be done so that it will be responsive towards the need of the constantly-changing society.

Keywords: information technology, media, press, citizen journalism

Continue reading

Advertisements

Perlindungan Profesi Wartawan

Dimuat dalam kolom WACANA Suara Merdeka, 25 Agustus 2010 hlm. 6 & 11. Klik halaman pertama dan halaman kedua untuk mendapatkan artikel dalam format PDF

Manunggal K. Wardaya

Tewasnya Ridwan Salamun, seorang  kontributor SUN TV menimbulkan duka dan keprihatinan yang amat mendalam terutama dari kalangan jurnalis. Sebagaimana diketahui, Ridwan tewas disabet senjata tajam manakala bertugas melipit konflik massa di Tual, Maluku. Bukan kejadian pertama yang menimpa jurnalis tanah air, kejadian serupa dalam wilayah konflik seperti yang menimpa Ridwan pernah dialami wartawan RCTI Ersa Siregar. Ersa tewas  diterjang peluru ketika menjalankan tugas meliput konflik bersenjata antara TNI dan Gerakan Aceh Merdeka.  Sementara itu, walaupun tak sampai mengalami peristiwa fatal, penyanderaan dua orang wartawan Metro TV dalam konflik di Irak masing-masing presenter Meutia Hafidz dan juru kamera Budiyanto sempat menjadi keprihatinan publik beberapa waktu silam. Di area bencana, kita masih mengingat tewasnya wartawan Lativi Suherman dan juru kamera SCTV Muhammad Guntur manakala melakukan liputan tenggelamnya kapal Levina pada tahun 2007. Demikianlah, profesi wartawan, terutama  dalam konteks wilayah konflik dan atau bencana nyatalah teramat rawan dan beresiko tinggi terhadap keselamatan. Tulisan ini secara singkat hendak memberikan eksplanasi atas pertanyaan seputar sejauh manakah hukum positif di Indonesia melindungi profesi wartawan dalam wilayah konflik dan bencana. Continue reading